Tampak salah satu tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan program Kredit Usaha Penggemukan Sapi (KUPS) senilai Rp5,3 miliar di Kabupaten Pacitan saat jalani proses penaanan oleh penyidik Kejati Jatim beberapa waktu lalu. Henoch Kurniawan

16 Tersangka Dugaan Korupsi KUPS Pacitan Bakal Diadili

SURABAYA|BIDIK – Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim melimpahkan berkas kasus dugaan korupsi dana bantuan program Kredit Usaha Penggemukan Sapi (KUPS) senilai Rp5,3 miliar di Kabupaten Pacitan, Selasa (19/12/2017). Dengan dilimpahkannya berkas kasus tersebut ke Pengadilan Tipikor, itu berarti tak lama lagi kasus yang melibatkan 16 tersangka ini segera disidangkan.

Sebelumnya penyidik Pidsus Kejati Jatim telah menahan 16 orang warga Kabupaten Pacitan yang terlibat dalam kasus ini. Ke 16 tersangka tersebut terdiri dari dua kelompok penerima, yakni dari Kelompok Agromilk I dan Kelompok Agromilk II. Adapun yang ditahan yakni Ketua koperasi Kelompok Agromilk I, Efendi ; Sekretaris, Ari Triwibowo ; Bendaraha, Moh Asmuni. Kemudian sejumlah anggota terdiri dari Sutrisno, Willy Taufan, Ali Arifin, Susilo Sukardi dan Kardoyo.

Sedangkan dari Kelompok Agromilk II adalah Ketua, Suramto dan Sekretaris, Supriyadi. Sementara anggota yang ikut ditahan antara lain, Sugiyanto, Gatot Sunyoto, Sartono, Suwarno, Setyadi dan Endro Sukmono.

“Berkas kasus dugaan korupsi KUPS Kabupaten Pacitan sudah kami limpah ke Pengadilan Tipikor. Tinggal menunggu jadwal persidangannya,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Jatim, Richard Marpaung, Selasa (19/12).

Dijelaskan Richard, dari 16 tersangka, hanya 15 berkas yang di limpah ke Pengadilan Tipikor. Menurutnya, salah satu seorang dari 16 tersangka ada yang meninggal dunia. “Jadi ada 15 (lima belas) berkas dengan 15 orang tersangka yang kami limpah,” jelasnya.

Ditanya terkait jadwal persidanga, Richard menambahkan, dirinya belum tahu pasti kapan kasus ini akan disidangkan. Apakah tahun 2018 mendatang, Richard enggan berpsekulasi. “Kan berkasnya baru dilimpah. Kita juga masih menunggu kapan jadwal persidangannya,” tegasnya.

Sebagaimana diberitakan, perkara ini bermula ketika pada tahun 2010 kelompok ternak sapi, Agromilk I mendapat bantuan berupa sapi perah sebanyak 235 ekor sapi senilai Rp 3.995.000.000. Sedangkan Agromilk II mendapat  sebanyak 80 ekor senilai Rp1.381.000.000. Dua kelompok peternak ini baru dibentuk ketika ada bantuan KUPS.

Dana bantuan itu tidak hanya untuk sapi saja, tapi juga untuk kandang, pakan, obat-obatan dan pemasangan chips. Lantaran mereka adalah kelompok ternak baru, maka kedua kelompok ternak itu tidak terdaftar di Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pacitan. Namun mereka tetap nekad mengajukan kredit.

Lantaran kurang pengalaman, dalam jangka waktu satu tahun sejak menerima bantuan, sapi yang seharusnya mereka rawat dengan baik, oleh penerima bantuan justru dijual ke orang lain. Padahal, penjualan sapi hasil bantuan ini dalam petunjuk teknis (juknis) maupun dalam petunjuk pelaksanaan (juklak) tidak diperbolehkan.

Dalam juknis maupun juklak disebutkan, sapi yang berkurang, dengan alasan apapun, baik mati atau dijual harus diganti dengan sapi yang lain. Sayangnya, hal tersebut tidak dilakukan oleh kelompok. Dari kasus ini, hanya dua peternak bernama Eko Budi Satrio dan Basuki Rakhmat yang membayar kembali senilai sapi yang dia jual. Sehingga kedua peternak itu untuk sementara tidak dijadikan tersangka oleh Penyidik. (eno)

Post Author: bidik

Leave a Reply