7 Tahun Buron, Buronan P2SEM Bekerja sebagai Dokter dan Dosen di Malaysia

Buronan Dr Bagoes Soetjipto Soelyoadikoesoemo saat dibawa ke Kejati Jatim. Henoch Kurniawan

SURABAYA|BIDIK – Tepat pukul 17.53 WIB, Dr Bagoes Soetjipto Soelyoadikoesoemo, terpidana sekaligus buronan perkara korupsi dana Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) 2008 dari Pemprov Jatim ini, tiba di kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Rabu (29/11/2017).

Mengenakan kaos berwarna merah, dr Bagoes tampak dalam kondisi sehat. Ia diterbangkan dari Kejaksaan Agung (Kejagung) RI di Jakarta, setelah sebelumnya, Minggu (26/11/2017), buronan yang menghilang sejak 2010 silam ini berhasil ditangkap petugas di Apartemen Nusa Perdana Taman Nusa Perintis, Johor Bahru, Malaysia.

Tak banyak kata yang terlontar dari keterangan dr Bagoes. Ia hanya membalas pertanyaan wartawan dengan sesekali mengumbar senyumnya. Namun, DUTA dapat keterangan bahwa selama 7 tahun dirinya buron, ia bekerja di Malaysia sebagai dokter dan dosen.

Saat ditanya lebih lanjut, ia mengajar di universitas apa dan kota mana, dr Bagoes enggan menjawab.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim Richard Marpaung, mengatakan pasca tertangkap, dr Bagoes dibawa ke Batam dan diterbangkan ke Jakarta, selanjutnya diseret ke Surabaya dan nantinya diserahkan ke Kejari yang menangani perkara dia sebelumnya.

Tak tanggung-tanggung, ada beberapa nama pejabat Kejati Jatim sebagai penjemput buronan ini yang berangkat ke Jakarta, antara lain Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Didik Farkhan Alisyahdi, Asisten Intelijen (Asintel) dan pejabat di Kejari Jombang, Sidoarjo serta Ponorogo.

Perkara yang melibatkan dr Bagoes tidak hanya disidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, tetapi juga di beberapa pengadilan di Jatim.

Dia divonis 7 tahun penjara oleh PN Sidoarjo, lalu 7,5 tahun penjara dari Pengadilan Tipikor Surabaya dan 7 tahun dari PN Ponorogo. Total hukuman dr Bagoes mencapai 21,5 tahun.

Sedangkan, oleh majelis hakim PN Surabaya yang diketuai Gusrizal, kendati dinyatakan bersalah, dr Bagoes divonis nihil alias nol tahun penjara, pada 2011 lalu. Ia hanya diwajibkan membayar denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp 4,021 miliar.

Alasan hakim Gusrizal saat itu, vonis yang diterima dr Bagoes dari ketiga perkara korupsi sebelumnya, bila ditotal melebihi ancaman hukuman maksimal terhadap perkara ini, yaitu 20 tahun penjara. Sedangkan, dari ketiga perkara sebelumnya, total sudah 21,5 tahun penjara yang harus dijalani terpidana.

Dan, dari ketiga vonis tersebut, seluruhnya dibacakan hakim tanpa kehadiran dr Bagoes alias in absentia.

“DPO ini memegang peran penting dalam kasus korupsi P2SEM. Ia menjadi operator penyalahgunaan dana P2SEM di sejumlah kampus dengan nilai sedikitnya Rp 1,5 miliar, yang berasal dari dari Bapemas Jatim. Adapun total kerugian yang ditimbulkan akibat tindak pidana korupsi tersebut sebesar Rp 2 miliar,” tambah Richard. (eno)

 

Be the first to comment

Leave a Reply