Agar Mendunia, Cerita Pewayangan Masuk Youtube

Teks Foto : Jarianto (dua dr kiri) dan Akhmad Sukardi (dua dr kanan) saat membuka Festival Dalang Muda 2017 di UPT Taman Budaya jalan Gentengkali, Selasa (18/4/2017) malam.

SURABAYA | BIDIK – Wayang kulit sebagai produk budaya unggulan, dapat berumur panjang sampai saat ini. Hal tersebut disebabkan oleh dua hal pokok, yaitu konsisten pada nilai moral dan adaptif terhadap perkembangan zaman, artinya di dalam pertunjukan wayang sarat dengan nilai-nilai ajaran luhur.

Secara artistik, pertunjukan wayang terus menggeliat untuk selalu tampil menarik dan aktual. Walaupun demikian, bukan berarti upaya pelestarian dan pengembangannya tidak memiliki tantangan, terutama di tengah arus hiburan melalui media elektronik saat ini yang begitu gencar, maka dalang dituntut harus mampu menunjukkan kreativitas dan inovasinya.

Hal tersebut seperti disampaikan Sekdaprof Jatim, Akhmad Sukardi saat membuka ‘Festival Dalang Muda’ dalam rangka Pekan Wayang Tahun 2017 di UPT Taman Budaya Jatim Jl. Gentengkali Surabaya, Selasa (18/4/2017) malam. “Dalang dituntut untuk kreatif dan inovatif sesuai dengan kemajuan teknologi,” ungkapnya.

Dicontohkan Akhmad, seorang dalang bisa memasukkan  potongan-potongan cerita yang paling menarik ke dalam you tube tentunya dengan durasi yang singkat, lengkap dengan suara sindennya. “Dengan demikian cerita pewayangan akan lebih luas dikenal masyarakat, terutama generasi muda dan pada akhirnya akan lestari dan terpelihara keberadaannya,” pintanya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dulu sanggit (daya kreatifitas dan olah pikir) terhadap berbagai kecenderungan sosial oleh para dalang selalu dikemas dalam idiom-idiom pakeliran secara semu dan tutur sastra tinggi, karena masyarakat masih sangat apresiatif dan paham terhadap pertunjukan wayang.  Sebaliknya, betapa saat ini terjadi kesenjangan komunikasi antara penonton dan pertunjukan wayang.

“Sebagian besar masyarakat sekarang, terutama generasi muda, tidak paham terhadap alur cerita yang dibawakan oleh dalang,” tuturnya.

Ketidak-pahaman tersebut bukan semata-mata karena faktor bahasa, melainkan juga karena kurangnya bekal pengetahuan tentang latar belakang budaya dan nilai seni pertunjukan wayang.

Untuk itu melalui pekan wayang tahun 2017 ini, Sekda berharap masyarakat mampu mengapresiasi momentum dan proses regenerasi melalui program pemerintah provinsi tersebut, yang didukung oleh Pepadi Pusat sehingga seni pedalangan dapat tetap lestari di Jatim khususnya dan Indonesia umumnya.

“Kita harapkan Pekan Wayang 2017 akan melahirkan dalang-dalang muda, dalang bocah dan sinden-sinden muda  yang mampu membumikan kesenian peninggalan leluhur,” harapnya.

Sementara Kadisbudpar Jatim, Jarianto menambahkan, tujuan Pekan Wayang ke-20 Tahun 2017 adalah melestarikan warisan budaya Indonesia yang diakui dan dianugrahi penghargaan dari Unesco sebagai warisan budaya tak benda, khususnya untuk kategori intangible cultural heritage of humanity, yaitu Wayang Indonesia pada tahun 2003.

Pekan Wayang Tahun 2017 digelar mulai 18- 22 April 2017, dengan peserta Dalang Muda dari 21 kabupaten/kota, dalang bocah diikuti 20 kabupaten/kota dan sinden berasal dari 21 kabupaten/kota. Adapun Dewan Pengamat berasal dari ISI Surakarta dan seniman dari Surabaya yang akan menentukan 10 penyaji terbaik.

Turut hadir Kepala UPT Taman Budaya Jatim, Sukatno dan Kepala UPT Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (LPPK) Jatim, Efie Widjajanti. (hari)

Be the first to comment

Leave a Reply