Coca Cola Kenalkan Botol Ramah Lingkungan

Teks Foto : (kiri) Triyono Prijosoesilo- Public Affairs & Communications Director Coca Cola Indonesia dan Stewart Edmed – Technical Director Coca Cola Indonesia (tengah)

JAKARTA | BIDIK – Coca Cola meluncurkan botol ramah lingkungan Affordable Small Sparkling Package (ASSP). Pengembangan teknologi ini bekerja sama dengan KHS GmbH asal Jerman. Teknologi ini memungkinkan Coca Cola memproduksi botol-botol Polyethylene Therepthalate (PET) yang memiliki kualitas tinggi dengan bobot yang lebih ringan.

Botol ini merupakan jenis pertama yang hadir di Indonesia dan merupakan pasar kedua di dunia, setelah India. Teknologi ini nantinya akan mengurangi penggunaan jumlah plastik di Indonesia hingga 40% atau lebih dari 800 ton per tahun.

Dibangun di atas lahan seluas 10 ha, pabrik ini memiliki kapasitas untuk memproduksi 360 botol per jam. Coca Cola merupakan perusahaan pertama yang menggunakan teknologi ASSP untuk minuman soda berkarbonasi. Selain itu, Coca Cola Amatil Indonesia juga akan memproduksi botol plastik yang lebih ringan berjenis PET dan di klaim sebagai jenis pertama di ASEAN.

Stewart Edmed, Technical Director Coca Cola Indonesia, menjelaskan, dengan nilai investasi mencapai US$ 30 juta ini merupakan salah satu upaya perusahaan untuk memberi nilai tambah pada lingkungan. ”Ini merupakan komitmen perusahaan untuk mengurangi emisi Co2 sebanyak 25% di 2020 sekaligus menjalankan bisnis yang berkelanjutan,” ujar Stewart.

Selaras dengan Stewart, Triyono Priosoesilo, Public Affairs & Communication Director Coca Cola Indonesia memaparkan, pencegahan limbah bukan hanya mengurangi bahan-bahan kemasan. Tetapi juga mengoptimalkan efisiensi kemasan, meningkatkan penggunaan bahan-bahan terkini, mengumpulkan kembali kemasan untuk digunakan kembali, dan meningkatkan penggunaan daur ulang.

Perusahaan ini dalam visinya ingin menerapkan sistem kemasan berkelanjutan (sustainable packaging) yang mana nantinya bahan-bahan yang digunakan akan di daur ulang secara terus menerus untuk membangun ulang modal alam dan sosial. ”Sistem sustainable packaging ini akan mempengaruhi skala dan sumber daya kami secara signifikan dan akan menghasilkan ekonomi melingkar (circular economy),” Jelas Triyono.

Triyono mengatakan, terjadinya perubahan dalam bentuk packaging ini tidak mempengaruhi harga jual coca cola di pasaran. Biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan untuk mengganti wadah yang lebih ramah lingkungan tidak berdampak signifikan terhadap biaya produksi. “Kami menggunakan teknologi yang berbeda, namun tidak ada perbedaan harga yang signifikan di pasar,” ungkapnya.

Dalam 3 tahun terakhir coca cola mencatatkan investasi sebesar US$ 240 juta di Indonesia dan ditargetkan akan kembali mengucurkan dana sebesar US$ 288 dalam 3 tahun ke depan. (hari)

Be the first to comment

Leave a Reply