Dua Aparatur Sipil Negara Terjaring OTT Pungli

Kapolres Batu AKBP Leonardus Simarmata beserta barang bukti saat gelar perkara pungli

KOTA BATU|BIDIK —Pihak Polres Batu secara resmi merilis dua oknum aparatur sipil negara (ASN) berstatus honorer yang terlibat melakukan praktik pungutan liar (pungli) kepada berapa warga terkait kepengurusan surat-surat tanah pada Kamis siang (9/3/2017), di Mapolres Batu.

Kabar penangkapan dua oknum ASN tersebut memang telah beredar di telinga para pemburu berita sejak Senin (6/3) beberapa hari yang lalu. Namun pada saat santer beredarnya informasi tersebut pihak institusi korps berbaju coklat itu memilih bungkam saat dikonfirmasi kebenaran kabar tersebut.

Saat rilis kasus pungutan liar dua oknum ASN yang berdinas di Kantor Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu, Kapolres Batu AKBP Leonardus Simarmata mengatakan pihaknya mengakui pada saat awal penangkapan, institusinya belum bisa memberikan keterangan kepada pers karena masih melakukan pendalaman perkara dan perlu kehati-hatian dalam mengumpulkan bukti dan menetapkan tersangka.

Praktik pungli di Kantor Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu terkuak setelah tim unit pemberantasan pungli (UPP) Polres Batu menerima laporan dari masyarakat  terkait maraknya pungli kepengurusan surat-surat tanah dan permohonan administrasi kependudukan. Dari laporan itu tim UPP melakukan penyelidikan dan berhasil membekuk Lukman Hakim (48), warga Jl. Batok, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu dalam operasi tangkap tangan (OTT).

Dia yang bekerja sebagai pegawai honorer di kantor Pemerintahan Kota Batu terjaring OTT karena kepergok diketahui meminta sejumlah uang kepada warga yang hendak mengurus surat keterangan tanah waris. Lukman ditangkap di Kantor Kelurahan Sisir, Jl. Semeru, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu pada Senin (6/3) pukul 12.30 WIB.

“Di TKP pertama aparat menyita uang tunai sebesar Rp. 3 juta dan satu bendel kuitansi tanda terima yang dibawa oleh tersangka. Kemudian aparat meneruskan pemeriksaan ke meja kerjanya,” jelas Leonardus Simarmata saat memimpin jalannya gelar perkara di Mapolres Batu pada Kamis siang (9/3).

Petugas kembali menemukan uang tunai senilai Rp. 2,5 juta, satu bendel kuitansi tertera senilai uang Rp. 9 juta terkait kepengurusan tanah, satu buah buku register surat tanah dan uang tunai senilai Rp. 850 ribu untuk pelunasan sewa gedung. Total uang tunai yang disita oleh petugas dari tangan Lukman senilai Rp. 6,4 juta.

Tim UPP juga menetapkan Zulham Effendi sebagai tersangka. Zulham Effendi merupakan pegawai kelurahan yang masih berstatus honorer. Penetapan tersangka itu setelah polisi memeriksa pria berusia 37 tahun itu secara intensif. Penggeledahan di meja kerjanya, polisi menemukan enam pucuk amplop yang totalnya berisi uang tunai senilai Rp. 11,2 juta. Mereka berdua telah berdinas menjadi abdi negara sejak 2005 dengan status masih honorer hingga kini.

“Uang itu atas permintaan dari pelaku karena tidak masuk dalam penerimaan negara bukan pajak (PNBP),” ucap Leonardus.

Pasal yang dikenakan kepada kedua tersangka ialah pasal 11 ataupun pasal 12E UU No. 20/2001  perubahan UU No. 31/1999 tentang tindak pidana korupsi.  Barang bukti telah disita oleh petugas diantaranya beberapa lembaran pecahan uang tunai berjumlah puluhan juta rupiah, dompet berisi beberapa kartu ATM, satu lembar kuitansi dengan nilai yang tertera Rp. 4,4 juta.

Selain menetapkan dua tersangka pegawai honorer, polisi juga telah memeriksa tiga pegawai Kantor Kelurahan Sisir diantaranya Dian Fachroni Kurniawan selaku lurah, Dyah Wardhani selaku bendahara serta Anang Purwanto, DP bersatus pegawai kontrak.

“Petugas kami  tidak ditemukan adanya barang bukti saat melakukan pemeriksaan di ruang kerja Lurah Sisir,” terang Kapolres Batu tersebut.

Meskipun begitu pihaknya masih terus melakukan pendalaman untuk memastikan ada tidaknya keterlibatan pihak lain di luar dua tersangka yang telah ditetapkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kapolres Batu, Leonardus, hingga rilis yang digelar pada Kamis siang (9/3), Lurah masih berstatus saksi. Ia menekankan untuk tidak melakukan justifikasi terlalu awal karena perlu mengedepankan azaz praduga tak bersalah.

“Ini masih penangananan awal. Kasus ini butuh penanganan yang hati-hati karena extra ordinary crime. Perlu tindak lanjut yang cepat merespon laporan korban,” tegas dia. (did)

Foto: Kapolres Batu AKBP Leonardus Simarmata beserta barang bukti saat gelar perkara pungli. (didid)

Be the first to comment

Leave a Reply