The Hub, Android Learning Center Pertama di Indonesia

Akan Melahirkan Technopreneur Kelas Dunia

Technopreneur, Adi Surya (kiri) dan praktisi bidang pendidikan dan bisnis, Agustinus Nugroho. (Foto : Ist)

SURABAYA | BIDIK – THE HUB merupakan Android Learning Center pertama di Indonesia yang menawarkan pembinaan calon technopreneur (entrepreneur bidang teknologi) yang berfokus pada pengembangan aplikasi smartphone dengan basis komunitas.

Program pembelajaran The Hub yang masih berada dalam fase soft launching hingga Desember ini diawali dari pengenalan pemrograman dasar hingga pembuatan aplikasi siap jual. Uniknya, aplikasi siap jual yang nantinya akan dihasilkan para coders binaan The Hub ini merupakan aplikasi kreasi sendiri dari para coders tersebut.

Pembentukan The Hub sendiri berawal dari persahabatan seorang technopreneur, Adi Surya dan praktisi bidang pendidikan dan bisnis, Agustinus Nugroho.

“Walaupun berasal dari background yang berbeda, kami memiliki passion yang sama di bidang pendidikan. Dalam perjalanan hidup, kami memiliki values yang akhirnya menjadi nilai The Hub itu sendiri. Kami menamakan values tersebut “The FREE Philosophy” yang merupakan singkatan dari FREEDOM, RIGOROUS, ENDURANCE, dan EXCELLENCE,” ungkap Adi Surya, Rabu (18/10/2017).

Dijelaskan Adi, prakteknya, para founders dari The Hub memimpikan kebebasan bagi mereka dan bagi orang lain. Dimana cara yang paling efektif untuk memberikan jalan menuju kebebasan adalah melalui pendidikan. “Memberikan kail jauh lebih berguna daripada memberikan ikan saja,” kata Adi.

Dengan background sebagai trainer di bidang teknologi aplikasi smartphone dan dosen serta konsultan bisnis. Keduanya telah melatih banyak coders yang bekerja untuknya di CrossTechno untuk mengenal dan menguasai programming Android. Sedangkan Agustinus Nugroho memilih pulang ke Indonesia untuk memajukan pendidikan di Indonesia ketimbang meneruskan karirnya di Australia.

Sebagai perantauan yang tinggal lama di Surabaya, para founders The Hub memiliki sebuah cita-cita yang ambisius. “Kami ingin menjadikan Surabaya sebagai pusat pembelajaran pembuatan aplikasi smartphone. Baik aplikasi standar maupun aplikasi yang lebih modern seperti Virtual Reality maupun implementasi Internet of Things,” timpal Agustinus.

Untuk mencapai hal ini, The Hub yang memiliki slogan “We are technopreneurs creating technopreneurs” memutuskan untuk tidak berhenti sebagai Android Training Center. Para coders The Hub akan dibekali ilmu bisnis dan manajemen agar mampu menjalankan aplikasi buatan coders tersebut sebagai sebuah bisnis yang nyata.

Dalam hal ini, pengalaman Agustinus Nugroho sebagai konsultan bisnis yang tergabung pada Magna Consulting Group yang telah menangani baik UMKM maupun perusahaan yang besar menjadi penting. “Setelah melalui pelatihan sekitar 12 bulan, para coders diharapkan naik kelas menjadi technopreneurs dengan usaha mereka masing-masing,” ujar Agustinus.

Agar pembelajaran menjadi efektif, The Hub membatasi peserta pelatihan menjadi 4 orang dalam 1 kelas, dimana kelas tersebut dilaksanakan 2x dalam seminggu. 1 hari akan difokuskan untuk pemberian materi, sedangkan hari lainnya digunakan untuk konsultasi tugas, business plan, maupun sekedar berkumpul untuk melakukan coding (pembuatan aplikasi) bersama-sama dengan para founders The Hub.

“Kami rencana akan melaunching minggu pertama  Desember 2017. Center pertama kami di Jl. Dharmahusada Indah Barat II-A47/75 yang akan beroperasi sebagai pusat pembelajaran dan co-working space yang dikhususkan untuk para coders, baik coders binaan The Hub maupun umum, ” tutur Agustinus.

“Ada 5 level untuk menyelesaikan program satu paket yaitu, Basic Programming, Android Programming, Android Mastery, Entrepreneur Program dan Technopreneur Program,” lanjutnya.

Dijelaskannya, level di atas di tempuh dalam 1 tahun. Setelah lulus, akan tetap dimonitor karena tergabung dalam coder’s community. Intinya tetap belajar bersama. Sedangkan peralatan belajar, yaitu laptop/notebook dengan kapasitas Ram minim 4GB dan processor minim 2GHz bawa sendiri. Di TC hanya menyediakan wifi saja. “Satu kelas maksimal 6 orang. Buka kelas bisa 2 orang saja,” katanya.

“Untuk membuat Surabaya menjadi pusat pembelajaran pembuatan aplikasi smartphone, coders Surabaya harus bersatu dan bertukar ilmu. Untuk itu, kami menyediakan wadah untuk bekerja maupun bersosialisasi,” pungkas Adi. (hari)

Be the first to comment

Leave a Reply