Klien Sutarjo dan Sudarmono Dituntut 5 Tahun

Hari Moerti dan Khoyana, Dua Pasutri Terdakwa Pemalsu Surat

ol-hari-moerti-dan-khoyana-klien-sutarjo-sudarmono-pemalsuan-suratSURABAYA, BIDIK.CO.ID – Pasangan suami istri terdakwa perkara pemalsuan surat, Hari Moerti (67) dan Khoyana (58), warga jalan DR Wahidin Sudiro Husono, Singorejo Kebomas Kab Gresik, harus bersiap-siap meringkuk dalam penjara dalam waktu yang lama.

Pasalnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lujeng Andayani dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menuntut kedua terdakwa dengan hukuman 5 tahun penjara. Tuntutan jaksa ini dibacakan pada persidangan yang digelar di ruang Kartika I Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (11/10).

“Menyatakan kedua terdakwa terbukti bersalah dan menuntut masing-masing terdakwa dengan hukuman 5 tahun penjara dipotong masa tahanan yang telah dijalani,” ujar jaksa membacakan berkas tuntutannya.

Sikap kedua terdakwa yang berbelit-belit dalam persidangan, menjadi bahan pertimbangan yang memberatkan jaksa dalam menjatuhkan tuntutannya. “Tak hanya itu, perbuatan terdakwa juga merugikan dan meresahkan masyarakat. Sedangkan hal yang meringankan, kedua terdakwa belum pernah dihukum,” beber jaksa.

Atas tuntutan jaksa tersebut, kedua terdakwa melalui tim penasehat hukumnya bakal mengajukan pembelaan (pledoi, red). Akhirnya majelis hakim PN Surabaya yang diketuai Musa Aini melanjutkan sidang perkara ini pada pekan depan. “Memberikan waktu sepekan untuk tim penasehat hukum terdakwa menyusun pembelaan,” ujar Musa dibarengi dengan mengetuk palu sebanyak tiga kali tanda sidang ditutup.

Untuk diketahui, tertuang dalam dakwaan jaksa, pada tindak pidana pemalsuan surat yang dilakukan pasutri pensiunan PT Semen Gresik ini, peran sang istri yaitu terdakwa Khoyana lebih dominan ketimbang terdakwa Hari Moerti.

Hal itu diketahui dari tanda tangan pada surat-surat hasil pemalsuan, mayoritas dibubuhi oleh tanda tangan terdakwa wanita lulusan SD ini. Sedangkan, perkara ini berawal dari jual beli 2 bidang tanah tambak yang berlokasi di Desa Banjarsari, Cerme Kab Gresik, yaitu persil 90 seluas 3.754 Ha dan persil 75 seluas 1.898 Ha antara kedua terdakwa dengan Ufuk Teguh Wibowo dan Poo Ufuk Saputra Wibowo, pada 18 Mei 2009. Saat itu, kedua bidang tanah tersebut dibeli oleh para pembeli dari kedua terdakwa seharga Rp 950 juta dan tertuang dalam Akta Pengikatan Jual Beli bernomor 5 dihadapan notari Mashudi.

Paska transaksi jual beli tersebut, kedua lahan tersebut terdaftar sebagai obyek pajak SPPT PBB atas nama Justisia Soetandio. Namun, pada tahun 2011, oleh kedua terdakwa, SPPT PBB tersebut oleh kedua terdakwa dirubah menjadi nama Khoyana, tanpa sepengetahuan Ufuk Teguh Wibowo dan Poo Ufuk Saputra Wibowo selaku pembeli dan pemilik sah atas lahan.

Sehingga, atas terjadinya perubahan nama pada SPPT PBB tahun 2011 NOP: 35.25.070.025.011.0077 yang diajukan kedua terdakwa tersebut, membuat permohonan penerbitan sertifikat yang diajukan para pembeli di BPN Gresik atas tanah tersebut tidak dapat ditindak lanjuti oleh pihak BPN Gresik.

Mendapati hal itu, akhirnya kedua pemilik sah tanah tersebut melaporkan ke pihak berwajib. Atas perbuatannya, oleh jaksa, kedua terdakwa dijerat pasal 263 jo pasal 64 jo pasal 55 KUHP tentang pemalsuan surat. (eno)

Foto: Terdakwa pasutri Hari Moerti dan Khoyana saat jalani sidang di PN Surabaya. (eno)

Be the first to comment

Leave a Reply