Komisi VI DPR RI Mengapresiasi Kinerja Bulog Jatim

Dalam Menjaga Ketersediaan Bahan dan Kestabilan Harga Selama Ramadhan & Lebaran

Teks Foto : Kepala Bulog Divre Jatim Usep Kayana, Irjen Menteri Perdagangan Srie Agustin, Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Jatim M Ardi Prasetiawan, dan Direktur SDM & Umum Bulog Wahyu Suparyono dan Azam Azman Natawijana, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI saat melakukan kunjungan ke Gudang Perum BULOG Divre Jatim Subdivre Surabaya Utara Banjar Kemantren II, Senin (12/6/2017).

SURABAYA | BIDIK –  Lebaran yang kurang 2 Minggu lagi, Direktur SDM dan Umum Perum Bulog Wahyu Suparyono mengatakan, saat ini stok bahan pangan di Perum Bulog Divre Jatim masih mencukupi. Sedangkan untuk cadangan beras masih aman untuk sepuluh bulan kedepan.

“Hingga periode 11 Juni 2017, serapan Perum Bulog Divre Jatim sebesar 32 persen atau 373.327 ton dari pengadaan gabah beras seluruh Indonesia. Serapan tersebut dari total realisasi Selindo 1.173.848 ton,” ungkap Wahyu Suparyono saat menerima kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI di gudang Sub Divre Surabaya Utara di Buduran, Sidoarjo, Senin (12/6/2017) sore.

Sedangkan untuk komoditas lainnya, lanjut Wahyu, seperti gula saat ini sebanyak 428 ribu ton, jagung 118 ribu ton. bawang merah 3.340 kilogram, tepung terigu 35 ton, minyak 248 ribu liter dan juga  cabai sebanyak 300 kilogram,” ucapnya.

Ia menambahkan, Jatim saat ini menjadi penyokong komoditas yang ada di Indonesia Timur dengan pergerakan “move out” dari satu gudang ke gudang lainnya. “Kami juga memiliki 3.795 rumah pangan kita (RPK) yang diharapkan bisa membantu menstabilkan harga kebutuhan bahan pangan saat ini,” ucapnya.

Terbukti pada 19 April 2017 lalu, Perum Bulog Divre Jatim mengirimkan beras ke Kaltim (Samarinda) dan gula ke Papua (Manokwari) yang semuanya sebanyak 3 kontainer (± 75 ton) yang diresmikan Menteri Perdagangan RI dan Gubernur Jatim.

Peran Bulog Jatim dalam memastikan ketersediaan stok di masing-masing kabupaten/kota dalam menjaga stabilisasi harga di tingkat konsumen, dilakukan melalui pendirian outlet Rumah Pangan Kita (RPK) yang sudah terbentuk sebanyak 3.795 Sahabat RPK.

Komitmen Bulog Jatim dalam menjaga stabilisasi harga dilakukan melalui Gerakan Stabilisasi Pangan, Kegiatan pasar murah, Operasi Stabilisasi, Harga (OSH) komoditas strategis (bawang merah, bawang putih, cabai) yang bekerja sama dengan instansi terkait dan organisasi/kelompok masyarakat (HKTI, PGRI, Ponpes dll).

Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI di Jatim diikuti 13 anggota Komisi VIDPR RI. Selain melakukan kunjungan di gudang Bulog, mereka juga melakukan kunjungan kesejumlah pasar yang ada di Surabaya. Mereka melakukan tinjauan harga bahan-bahan pokok di Pasar Wonokromo, Pasar Pucang, dan pasar Keputran.

Azam Azman Natawijana, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI yang memimpin rombongan ini mengatakan. sesuai dengan peraturan Undan-undang Nomor 7 tahun 2014 disebutkan jika pemerintah wajib menjaga pasokan bahan pangan.

“Hal inilah yang ingin kami buktikan dengan turun langsung secara spesifik ke sejumlah pasar tradisional di Surabaya dan juga di Gudang Bulog di Buduran Sidoarjo ini,” ucapnya sembari menambahkan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi kepada Bulog, Disperindag, dan berbagai pihak yang ikut menjaga ketersediaan bahan dan kestabilan harganya.

Namun, kader dari Fraksi Demokrat tersebut juga mengingatkan, agar Bulog lebih berhati-hati dalam melaksanakan segala sesuatunya. “Harus lebih berhati-hati, jangan sampai jadi hal yang sama terjadi seperti yang terjadi pada kasus PT Garam beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Dalam kunjungannya, rombongan sempat meninjau harga bahan pokok, di Bulog dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Persero, di halaman depan Pasar Wonokromo. Rombongan juga meninjau harga bahan pokok di dalam pasar. Mereka menemukan, harga daging sapi dengan kualitas paling baik masih berada di kisaran harga Rp 110 ribu.

“Harga daging fresh tidak sampai Rp 150 ribu seperti dulu. Rata-rata Rp 110 ribu dan ada pilihan harga Rp 80 ribu, atau lebih murah. Jadi harga-harga stabil, tidak ada gejolak,” kata Azam.

Harga bahan pokok yang ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan, menurutnya, sudah tercapai. Masalahnya adalah daya beli masyarakat yang menurun. Ini tampak dengan adanya penurunan omzet pedagang mencapai 40 persen.

Sementara Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan, Srie Agustina menambahkan, omzet pedagang menurun karena banyaknya pasar murah. “Penyebabnya, karena banyak pasar murah. Kalau pedagang di sini (Pasar Wonokromo) tidak mau menjual murah, akibatnya masyarakat tidak akan membeli ke sini,” ujarnya.

Srie mengatakan, pemerintah sudah memberikan preferensi harga bahan pokok. “Harga bahan pokok di pasar Wonokromo sudah sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah,” katanya.

Misalnya daging. Sudah ada ketentuan, harga daging termahal, daging segar paha belakang, Rp 105 ribu. Ada juga harga daging beku Rp 80 ribu, harga daging segar paha belakang Rp 98 ribu dan daging sandung lamur, Rp 80 ribu. Demikian halnya harga bahan pokok lain seperti beras, gula pasir, dan bawang merah. “Bawang putih memang belum masuk dalam ketentuan ini,” ujarnya. (hari)

Be the first to comment

Leave a Reply