Memasuki Dunia Kerja, Mahasiswa Butuh Perlindungan Jaminan Sosial BPJS Ketenagakerjaan

Rektor, dekan dan para dosen Unesa saat foto bersama jajaran BPJS Ketenagakerjaan Jatim sebelum'40 Menit Mengajar' di Auditorium Fakultas Teknik kampus Unesa, Ketintang, Surabaya, Rabu (6/12/2017). (Foto : hari)

SURABAYA | BIDIK – Setelah Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya, kali ini giliran
mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendapat edukasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan tentang pentingnya jaminan sosial bagi generasi muda, khususnya mahasiswa.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud kepedulian BPJS Ketenagakerjaan dibidang pendidikan dan melibatkan jajaran Direksi, Dewan Pengawas serta pejabat eselon satu.

Edukasi ini dilakukan dengan cara kuliah umum di 49 Universitas diseluruh Indonesia, termasuk di Unesa yang bertempat di
Auditorium Fakultas Teknik kampus Unesa, Ketintang, Surabaya, Rabu (6/12/2017).

Dalam kuliah umumnya dihadapan ratusan mahasiswa Unesa, Deputi Direktur Bidang Pengadaan BPJS Ketenagakerjaan, Yogi Darmawanto menjelaskan, kegiatan yang bertema “40 Menit Mengajar” ini sebagai bagian dari 40 tahun usia BPJS Ketenagakerjaan.

“Dengan kegiatan ini, kami berharap mahasiswa akan mengenal dekat BPJS Ketenagakerjaan untuk memasuki dunia kerja, karena setelah bekerja mereka membutuhkan jaminan sosial agar aman dalam bekerja dan nyaman bekerja untuk keluarganya,” kata Yogi.

Saat ini, lanjutnya, masih banyak dari mahasiswa yang belum mengetahui dan paham BPJS Ketenagakerjaan serta manfaat yang didapat sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“BPJS Ketenagakerjaan dibentuk untuk melindungi peserta selama bekerja, menjamin kelangsungan hidup ahli waris peserta yang meninggal dunia dan menjamin masa hari tua peserta,” ujarnya.

Selain itu, Yogi juga menjelaskan beberapa program dari BPJS Ketenagakerjaan. Antara lain, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP).

“JKK merupakan jaminan yang didapatkan pekerja saat menghadapi risiko kecelakaan selama bekerja dalam bentuk perawatan, pengobatan dan santunan. JK berupa santunan yang diberikan kepada ahli waris pekerja yang mengalami musibah meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja,” jelasnya.

“Sementara JHT, jaminan yang dibayarkan kepada pekerja di saat mengalami pemutusan kerja dari perusahaan atau memasuki usia pensiun. Dan JP merupakan jaminan yang dibayarkan secara lumpsum atau berkala kepada pekerja saat memasuki usia pensiun, atau diberikan kepada ahli waris dari peserta yang mengalami resiko meninggal dunia,” tutur Yogi.

Di akhir perkuliahan, Kepala Umum dan SDM BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jatim, Samino menambahkan, bahwa BPJS itu ada 2, yaitu BPJS  Kesehatan yang dulunya bernama  ASKES dan BPJS Ketenagakerjaan yang dulunya bernama Jamsostek.

“Dimana kini BPJS Ketenagakerjaan memiliki manfaat tambahan melalui program Co-Marketing sebagai “Manfaat Keseharian” bagi Peserta BPJS Ketenagakerjaan. Program yang memungkinkan peserta untuk mendapatkan potongan harga di merchant, tenant ataupun produk dan jasa lain yang bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan,” pungkas Samino. (hari)

Be the first to comment

Leave a Reply