Pakar Hukum Unair: Kasus Chinchin Tak Lazim

ol-wayan-titib-chinchin

SURABAYA|BIDIK.CO.ID– Singkatnya waktu yang dibutuhkan Kejaksaan untuk menyatakan berkas perkara Trisulowati alias Chinchin telah sempurna (P-21) mematik komentar dari pakar hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, I Wayan Titib Sulaksana.

Dosen pada Fakultas Hukum Unair ini mengatakan bahwa perkara yang melibatkan Chinchin sebagai terdakwa tersebut tak lazim. “Terlalu cepat dan tidak seperti biasanya,” ujarnya di Mapolda Jatim, Rabu (1/2/2017).

Menurutnya, untuk menentukan bahwa berkas perkara tersebut telah sempurna, tim peneliti serta penyidik membutuhkan waktu untuk proses. Kendati demikian, ia tak mau berandai-andai. Bahkan ia yakin, cepatnya proses P-21 tersebut, tim peneliti jaksa juga mempunyai alasan.

“Di kasus Chinchin berkas perkara sangat singkat dinyatakan sempurna, sedangkan di kasus Pasar Turi, berkas perkara tak kunjung selesai malah dioper ke sana kemari. Ada apa ini?,” tambah pria yang tercatat sebagai anggota International Law’s Lectures Asociation ini.

Pertanyaan Wayan Titib tersebut, senada dengan apa yang dirasakan oleh Hotman Paris Hutapea, penasehat hukum Chinchin. Sebelumnya, Hotman mempertanyakan sikap ‘rajin’ kejaksaan yang dianggap diluar kewajaran.

“Jaksa Muda Pengawas (Jamwas) Kejagung RI harus turun ke Surabaya guna memeriksa para oknum jaksa yang terlibat dalam perkara ini. Ini merupakan pelimpahan perkara tercepat dalam sejarah hukum di Indonesia. Ada apa ini, kejaksaan terkesan antusias untuk menyatakan P-21 perkara ini meskipun pelapor dan terlapor masih terikat perkawinan. Tiga hari berkas perkara sudah dinyatakan sempurna, ada apa dibalik rajinnya tim kejaksaan ini, harus ditelusuri,” tegas Hotman.

Untuk diketahui, perkara ini terjadi berawal dari laporan Gunawan Angka Wijaya, bos Empire Palace, yang tak lain adalah suami terdakwa sendiri. Gunawan tega melaporkan terdakwa karena dinilai telah menggelapkan dan mencuri sejumlah dokumen milik PT Blauran Cahaya Mulia (BCM), perusahaan yang juga berkantor di gedung megah Empire Palace, jalan Blauran Surabaya itu.

Padahal menurut terdakwa, dokumen itu dipindahkan sesuai permintaan tim audit guna menindaklanjuti perintah Gunawan untuk dilakukannya audit keuangan pada perusahaan properti tersebut.

Pemindahan dokumen dari Empire Palace ke Apartemen Gunawangsa Surabaya itu, dilakukan agar proses audit itu bisa dilaksanakan secara obyektif dan independen.

“Dan audit itu sendiri, dilakukan atas permintaan Gunawan. Lah saat kita mau melaksanakan audit, kok malah dilaporkan mencuri dokumen. Padahal selama ini, terkait dokumen-dokumen perusahaan itu dia tidak tahu menahu dan tidak tahu keberadaannya, karena memang yang mengurusi kerjaan adalah saya selaku direktur. Dan yang terpenting, pemindahan dokumen itu masih tahap proses, belum semua dokumen dipindahkan, bahkan yang dipindahkan itu lebih banyak kopian dokumen dan brosur-brosur, tidak ada dokumen penting,  bahkan buku pelajaran anak-anak ada diantara tumpukan dokumen tersebut,” terang Chinchin.

Atas perbuatannya, oleh jaksa, terdakwa dijerat pasal berlapis, yaitu pasal 367 ayat 2 jo pasal 363 ayat 1, 376 jo pasal 374 KUHP dengan ancaman diatas lima tahun penjara. (eno)

Foto: I Wayan Titib Sulaksana, Pakar Hukum dari Unair Surabaya saat di Mapolda Jatim Surabaya. Henoch Kurniawan

Be the first to comment

Leave a Reply