Paska Dilaporkan, Pengelola Pasar Atum Ogah Temui Wartawan

Beberapa pedagang Pasar Atum yang menyesalkan sikap pengelolah. (hari)
Beberapa pedagang Pasar Atum yang menyesalkan sikap pengelolah. (hari)
Beberapa pedagang Pasar Atum yang menyesalkan sikap pengelolah. (hari)

SURABAYA, BIDIK.CO.ID – Pengelola Pasar Atum, yakni PT Prosam Plano sejak bermasalah dengan para pemilik stand 2011 yang lalu enggan memberikan konfirmasi atau penjelasan dengan awak media.

Hal ini dibuktikan saat media berusaha mendatangi kantor manajemen yang terletak di lantai 6 Pasar Atum guna menemui direksi maupun pihak yang berkompeten untuk dimintai konfirmasi, Senin (9/5/2016).

Pihak keamanan perusahaan saat menemui awak media beralasan pihak direksi ataupun humas dari PT Prosan Plano sedang tidak ada ditempat. “Humas dan direksi sedang keluar kantor mas, mungkin mas-masnya bisa telepon dan janjian terlebih dahulu sebelum datang kemari.” Terang pihak keamanan tersebut.

Masalah yang terjadi antara PT Prosam Plano dengan para pemilik stand tersebut berawal dari surat edaran No. 124/S.Klr.Ktr/04/VI/11/DWS mengenai Pemberitahuan Proyek Pergantian Instalasi Listrik Tahap I, II, III dan V, Lantai 1 dan 2 Pasar Atum dan sesuai Informasi Tagihan Biaya Penggantian Instalasi Listrik.

Dimana dalam surat edaran tersebut pihak pengelola PT Prosam Plano secara sepihak menerapkan biaya Penggantian Instalasi Listrik yang besarnya Rp 1.600.000,-/M2

“Harusnya sudah menjadi kewajiban pihak pengelola melakukan maintenance terhadap instalasi kabel listrik dengan yang baru tanpa membebani kami lagi,” kata Vincent Kenneth bersama 8 pemilik stand lainnya, saat ditemui media dan Jumat 6 Mei 2016 beberapa waktu lalu.

“Lha ini kok pedagang masih dimintai biaya. Untuk apa selama ini uang yang dikutip?. Patut dipertanyakan pula, kemana pajak PPn service charge yang ditarik pengelola selama ini ?, Apakah dibayarkan ?,” tambahnya heran.

Mereka tidak habis pikir kenapa harus pemilik stand yang memperoleh beban mengganti instalasi kabel listrik itu. Padahal selama puluhan tahun ini pihak PT Prosam Plano menerima service charge yang didalamnya termasuk pemeliharaan jaringan instalasi listrik.

Lebih dari itu, yang membuat mereka kaget serasa tercekik, adalah perhitungan biaya penggantian instalasi listrik yang dibebankan pada mereka nilainya sangat tidak wajar. Mereka harus bayar Rp 1,6 juta per meter persegi kali luas stand mereka masing-masing, bukan kali panjang stand.

Dan yang membuat mereka makin terjepit, bila tidak segera membayar biaya terhitung mulai 15 Juni 2011. Beban mereka ditambah denda dan bunga yang terus berjalan dan jumlahnya bisa berlipat-lipat.

Selain dianggap sepihak dan sangat tidak wajar, surat atau peraturan pengelola Pasar Atum tersebut juga dinilai janggal. Dalam surat itu disebutkan keputusan tersebut berdasarkan kesepakatan bersama antara PT Prosam Plano dengan Pengurus HIPPA [Himpunan Pedagang Pasar Atum] dan Ketua Paguyuban masyarakat Tionghoa Surabaya.

Padahal, para pemilik stand tidak pernah merasa diwakili oleh pengurus HIPPA, dan menganggap sangat tidak relevan bila hal ini melibatkan organisasi Tionghoa. Mereka menyatakan tidak pernah menyerahkan hak untuk diwakili oleh paguyuban Tionghoa.

Menurut mereka, tidak hanya itu kesewenang-wenangan pengelola Pasar Atum, masih banyak yang lain. Diantaranya ancaman bayar denda sebesar 500 ribu bagi pemilik stand yang terlambat buka atau lebih awal menutup standnya.

“Bahkan, saat kami sedang kesusahan karena ada keluarga yang meninggal dunia, kami tidak diperkenankan menutup stand kami, sangat tidak manusiawi pengelola tersebut,” ucap Vincent geram.

Kini kalau ke Pasar Atum, akan banyak dijumpai banyak stand kosong akibat tindakan kesewenang-wenangan dari PT prosam Plano tersebut. Bahkan pemilik stand yang tidak mau membayar denda ataupun bunga tidak bisa masuk ke stand mereka karena oleh pengelola stand mereka dikunci oleh pengelola.

baca juga: Arogan, Pengelolah Pasar Atum Dipolisikan

“Kalau stand itu mau dibuka, kita harus bayar denda maupun bunga yang saat ini nilainya mencapai ratusan juta bahkan ada yang nilainya sudah mencapai miliaran rupiah, tergantung besar dan luas stand yang dimiliki,” tegas Vincent. (mwp/Haria)

Be the first to comment

Leave a Reply