Pengemudi Perempuan Go-Jek Pakai Kebaya Sambil Baksos

Foto 2 : Saat bagi-bagi nasi bungkus kepada tukang becak yang ditemui dijalan.

SURABAYA | BIDIK – Transportasi online Go-Jek punya cara tersendiri dalam mengenang sekaligus meneladani jasa-jasa dalam diri RA Kartini saat memperjuangkan hak-hak emansipasi wanita. Dan perjuangan RA Kartini tersebut diapresiasi oleh puluhan perempuan pengemudi Go-Jek untuk peduli dan berbagi kasih kepada sesamanya.

Bisa dibayangkan, kalau puluhan kartini-kartini masa kini pengemudi Go-Jek yang sehari-harinya biasa memakai celana panjang serta jaket kebesaran Go-Jek (warna hijau) harus berganti kostum adat, seperti kebaya.

Seakan tidak mau kalah dengan laki-laki, siang hingga malam, panas dan hujan, para kartini masa kini pengemudi Go-Jek harus tetap tegar menjalankan profesinya yang syarat dengan resiko tinggi demi membantu ekonomi keluarganya.

Helen adalah salah satu dari sekian banyak pengemudi Go-Jek yang pantas disebut kartini masa kini. Pasalnya, perempuan yang hampir 2 tahun bergabung di Go-Jek ini sudah kenyang pengalaman suka maupun duka saat membonceng pelanggan yang mayoritas laki-laki. Rayuan hingga pelecehan seakan sudah menjadi santapan sehari-harinya.

“Tapi dengan sopan saya mengingatkan, kalo ada pelanggan yang berbuat kurang ajar kepada saya, akan saya persilakan turun,” ujar Helen yang mengaku mendapatkan hasil minimal Rp 300 ribu perharinya.

Meskipun banyak resiko, tapi Helen mengaku tidak kapok bekerja menjadi pengemudi Go-jek. “Karena hasilnya lumayan, bisa membantu suami ikut menopang ekonomi keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anak,” ucap ibu 3 anak ini bangga.

Sementara Ayu Meivitasari M selaku Brand Partnership, Media & PR juga menambahkan, jumlah pengemudi Go-Jek Surabaya saat ini sekitar 15.000 orang, dan 1 persennya adalah perempuan. “Sebenarnya sejak 3 bulan lalu, tiap Jumat kami mesti bagi-bagi nasi bungkus. Kebetulan perayaan Hari Kartini tahun ini jatuh pada hari Jumat juga,” ungkap Ayu yang menjelaskan, selain Surabaya dan Malang, pihaknya juga akan menjajaki Go-Jek buka di Sidoarjo, Gresik dan Madiun.

Sementara itu, spesial di Hari Kartini, seluruh perempuan pengemudi Go-Jek rela memakai kebaya guna melakukan aksi sosial dengan bagi-bagi nasi bungkus kepada para tukang becak, tukang parkir, pemulung, tambal ban, bahkan kepada ‘sopir angkot’. Mereka start di jalan Tidar, jalan pelan beriringan menyusuri jalan Arjuno, Pandigiling, Dinoyo dan berakhir di Ngagel (belakang Marvel City) pada Jumat (21/4/2017).

“Meskipun keberadaan kita sering dianggap ‘merebut’ pelanggan mereka para sopir angkot. Tapi kita menganggap mereka tetap kawan seprofesi, karena kita kerjanya 100 persen dijalanan,” pungkas Helen yang berperawakan tomboy ini. (hari)

Be the first to comment

Leave a Reply