PPL Harus Mampu Sajikan Edukasi Pertanian Berbasis Teknologi Informasi

Para peserta merancang lay out leaflet yang menyajikan materi-materi pertanian ketika mengikuti workshop " Media Penyuluhan"

KOTA BATU|BIDIK–Mutu hasil pertanian, salah satunya ditentukan hubungan timbal bailk antara penyuluh pertanian lapang (PPL) dan petani. PPL sebagai ujung tombak memperbaiki mutu pertanian perlu dibekali peningkatan keterampilan dan kemampuan dalam menangani perihal pertanian karena peran mereka bersentuhan langsung dengan para petani.

Penyuluhan pertanian berbasis multimedia dimanfaatkan oleh Dinas Pertanian Kota Batu, seiring dengan perkembangan teknologi media informasi mutakhir. Melalui worshop “Media Penyuluhan” yang digelar oleh Dinas Pertanian Kota Batu sejak 8-9 Agustus 2017, merombak metode penyuluhan pertanian yang sebelumnya konvensional bertransformasi dengan pendekatan teknologi media informasi.

Workshop yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tenaga penyuluh pertanian/perkebunan menggandeng 80 peserta termasuk 31 tenaga penyuluh yang ada di Kota Batu serta perwakilan petani dari kelompok tani. Agar edukasi pertanian berbasis multimedia bisa efektif, oleh karenanya para penyuluh harus mampu mengaplikasikan setiap piranti-piranti teknologi media informasi.

“Bisa disajikan dalam bentuk media visual seperti booklet ataupun leaflet. Dengan begitu penyampaian informasi lebih menarik dan bisa dipahami masyarakat,” tukas Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Kota Batu, Harjadi Agung pada Rabu sore (9/8).

Konten leaflet ataupun booklet, menurut Harjadi mencakup promosi produk pertanian, materi penyuluhan, pengendalian dan penanganan penyakit dan hama serta proses tanam hingga pasca panen. Dia menambahkan konten-konten tersebut nanti akan disajikan pula dalam format video.
“Pada workshop kemarin juga diajarkan pembuatan video berkaitan konten-konten tersebut,” sambung dia.

Dalam kegiatan workshop tersebut diberikan juga materi tentang pembinaan lembaga. Harjadi menjelaskan penyuluh berperan menghidupkan kelompok tani binaannya, baik dari segi administrasi maupun memberikan penyampaian informasi dari instansi pertanian ataupun lembaga lainnya.

“Pelembagaan kelompok mencakup bagaimana mengembangkan kelompok dan bagaimana berbudaya dalam kelompok,” jelas dia.
Selain itu, Harjadi menambahkan, para penyuluh ke depannya akan dibekali metode pendekatan berinteraksi dengan petani. Menurutnya saat ini para penyuluh pertanian masih berkutat di bidang pertanian yang sifatnya general.

“Nanti akan kami didik lebih kepada keahlian spesifik sehingga paham permasalahan di lapangan. Harapannya mereka bisa menjadi pemecah permasalahan di masyarakat,” pungkas dia. (Didid)

Be the first to comment

Leave a Reply