Produk Olahan Daun Kelor Jatim Tembus Kanada

Lipsus oleh Zainul Arifin

Proses pembibitan dan hasil produk olahan daun kelor merk kelir. (Foto : Zainul)

JEMBER | BIDIK – Tidak banyak yang tahu kalau pohon kelor yang biasanya tumbuh liar di sekeliling kebun kita, memiliki banyak manfaat dan khasiat yang tinggi bagi kesehatan. Selain itu, daun kelor mempunyai nilai ekonomi tinggi dan menjadi peluang bisnis yang menguntungkan jika diolah menjadi tepung/serbuk dan menjadi produk olahan makanan dan minuman (mamin). Permintaan pun mengalir, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, termasuk Malaysia, Hongkong dan Kanada. Bagaimana kisahnya ?…

Siang itu, Kamis 30 Nopember 2017 cuaca di Desa Kesilir Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember begitu panas. Saat tiba di rumah pak Adam, salah seorang perangkat Desa (Kasun), tim rombongan liputan khusus humas Prov Jatim beserta wartawan disambut hangat oleh tuan rumah dan ketua Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Desa Kesilir, Imam Syafi’i bersama komunitasnya. Turut mendampingi dalam rombongan tersebut, Kasi Pendamping Masyarakat dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Prov Jatim, Imam Chotib.

Kabupaten Jember memiliki banyak potensi. Salah satu potensi yang dikembangkan oleh KPM Desa Kesilir adalah produk olahan daun kelor. Tim rombongan akhirnya tertuju pada satu arah, yakni Imam Syafi’i, selaku ketua KPM yang menceritakan awal mula mengembangkan usaha produk olahan daun kelor yang dimulai sejak 2014. . “Saya bisa membuatnya setelah mengikuti beberapa kali pelatihan dari Marongghi Sumenep,” ujar Imam mengawali ceritanya.

Menurut Imam Syafi’i yang juga pendiri Kesilir Marongghi Center Community (KM2C),  mengatakan, serbuk produk olahan Daun Kelor yang diberi label ‘Kelir’ (Kelor Kesilir) bisa menjadi obat alami dan memiliki banyak manfaat, karena besar kandungan nutrisi yang terdapat dalam daun kelor memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Misalnya air daun kelor untuk menyeimbangkan kadar gula darah, menurunkan kolesterol, hipertensi, diabetes, menetralkan racun dan radikal bebas, tonik penguat jantung, perbaikan fungsi hati dan ginjal serta bisa sebagai obat anti kanker dan tumor. Juga sangat baik untuk ibu hamil dan menyusui sebagai vitamin dan asupan lengkap. “Saya mengetahui manfaatnya setelah konsultasi sama bidan desa,”ujarnya.

Pohon kelor yang bernilai ekonomis itu, lanjutnya, akhirnya membuat warga Desa Kesilir antusias menanam. Selain mudah ditanam, dalam kurun waktu tiga sampai tujuh bulan sudah bisa dipanen sehingga menghasilkan manfaat bagi perekonomian warga untuk menambah penghasilan keluarga.

Dijelaskan, tanaman kelor, dikenal sebagai tanaman magis karena biasanya dimanfaatkan untuk memandikan jenazah. Kini diketahui, daun kelor sebenarnya memiliki manfaat besar untuk kesehatan dan pengobatan. Sebelumnya, pohon kelor banyak tumbuh di Desa Kesilir, namun belum tahu manfaat dan khasiatnya, setelah pohon tersebut daunnya lebat dipotong dan dibuang begitu saja. Kadang juga digunakan sabagai pakan ternak sapi, atau kambing.

“Namun, setelah kami memperoleh penyuluhan yang difasilitasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Jatim, kami baru sadar bahwa di Desa kami memiliki banyak tanaman kelor yang berpotensi mengangkat pendapatan masyarakat,” papar Imam Safi’i diamini beberapa rekannya.

Belum Bisa Penuhi Permintaan Pasar

Melihat khasiat dan manfaat daun kelor, akhirnya permintaan dari berbagai daerah terus meningkat seiring makin makin dikenalnya daun kelor sebagai pengobatan. “Ada permintaan 2 ton per bulan dari Jakarta, katanya sich mau diekspor ke Kanada, tapi kami belum bisa memenuhinya karena terkendala bahan baku,” kata Imam Syafi’i sambil menambahkan kalau sudah pernah mengirim permintaan ke Hongkong serta Malaysia yang sudah mulai order meskipun masih dalam tahap penjajakan.

Untuk memenuhi permintaan pasar tersebut, Imam Syafi’i mengajak masyarakat Desa Kesilir dan Desa Tamansari untuk menggalakkan tanaman kelor tersebut. Bahkan membuat program satu rumah tanam tiga pohon. Kalau ada sekitar 16.000 penduduk yang ada di 3 dusun di desa Kesilir itu akan mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

“Masih baru sekitar 2,5 hektar lahan kelor yang di tanam. Dari lahan itu baru mampu menghasilkan 6,5 kuintal daun kelor basah. Jika daun kelor basah tersebut dikeringkan, hanya menjadi 65 kg, setelah diolah menjadi serbuk atau tepung, untuk minuman masih susut lagi,” beber Imam Syafi’i.

Menurut Imam, Syafi’i saat ini, pihaknya mengaku kesulitan memenuhi permintaan karena dalam produksi masih menghasilkan 30 kilogram (kg) bahan baku berupa daun kelor basah. Jika diolah, menghasilkan 3 kg tepung kelor. Selama sebulan, KM-2C cuma mampu menghasilkan 50 kg tepung daun kelor.

Imam menjelaskan, 50 kg tepung yang dihasilkan tiap bulannya itu berasal dari kebun kelor seluas 2,25 hektare (ha). Rinciannya di Desa Andong Sari seluas 1 ha, Taman Sari 0,25 ha, Dempok 0,5 ha, dan Glundungan 0,5 ha. “Kami juga membeli bahan baku daun kelor dari warga-warga hingga ke luar Wuluhan. Ini kami lakukan untuk memenuhi permintaan pelanggan,” tandasnya.

Sementara itu, pemilik kebun pohon kelor Dedi Mulyadi mengatakan, setiap dua minggu sekali  dirinya memanen pohon kelor miliknya dari total 400 pohon yang ditanam. “Saya memanen setiap 15 hari sekali, dari 400 pohon kelor, menghasilkan daun kelor basah 15 kilogram sekali panen. Kita juga bisa memanfaatkan bagian bawah tanaman kelor untuk tumpang sari, kebetulan di kebun saya ditanami cabe jamu,” ujar Dedi Mulyadi, pemilik kebun kelor di Taman Sari yang pernah menjadi juara lomba KPM se Jatim ini.

Sedangkan daun kelor basah dihargai Rp 2.000 per kilogramnya, untuk daun kelor kering harganya lebih mahal, yaitu grade 1 seharga Rp 60.000 per kilogramnya, bahan baku ini untuk tepung premium. Sedangkan grade 2 dan 3 masing-masing seharga Rp 50.000 dan Rp 40.000 per kilogram. Setelah daun kering diolah menjadi bubuk untuk minuman (teh atau kopi), dan dikemas/ packaging dijual bervariasi. Untuk kemasan 70 gram harga Rp 20 ribu, 100 gram Rp 25 ribu dan 113 gram dibanderol Rp 120 ribu.

Proses Produksi

Untuk mengolah, awalnya daun kelor basah diambil dari dahan, kemudian dijemur hingga kering. Setelah itu dimasukkan mesin penggiling lalu menjadi serbuk/ tepung hingga halus. Setelah menjadi serbuk, bisa menjadi bahan makanan serta minuman, untuk makanan berupa stick dan cookies. Sementara minuman menjadi kopi dan teh.

Saat menjemur, lanjut Imam Syafi’i, daun kelor tidak boleh terlalu kering, agar serbuk / tepung yang dihasilkan berwarna hijau, tidak berubah warna kecokelatan. Supaya warna tepung yang dihasilkan tetap ‘cantik’, alas yang digunakan untuk menjemur harus berasal dari bahan organik, seperti tampah. Jika dari plastik, serbuk / tepung yang dihasilkan warnanya berubah menjadi cokelat. Namun saat musim hujan begini ia mengaku kesulitan untuk mengeringkan. Untuk itu,  ia berharap ada bantuan mesin pengering atau oven dari pemerintah Provinsi untuk menunjang proses kelancaran produksi.

Pemprov Beri Apresiasi

Pemprov Jatim melalui Kasi Pendamping Masyarakat, Imam Chotib, dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jatim sangat mengapresiasi warga Desa Keslir yang sangat antusias mengembangkan produk unggulan di daerahnya. “Kami sangat mengapresiasi ini, karena warga Desa Kesilir melakukannya dengan dana swadaya. Dukungan dari pemerintah yang sangat terbatas saja sudah memperoleh hasil yang yang maksimal,” jelasnya. Pihaknya berharap potensi daerah di kabupaten Jember, terutama di Desa Kesilir melalui KPM-nya terus melakukan inovasi-inovasi agar produk olahan serbuk daun kelor bisa ditingkatkan lagi, sehingga bisa memenuhi permintaan pasar dari luar negeri. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply