* SIMALUNGUN *, — Bidil.co.id —
Menapaki jejak sejarah para ulama dan orang-orang saleh, sekaligus mempererat tali silaturahmi, menjadi perjalanan spiritual yang sarat makna bagi Muhammad Mas’ud Silalahi, S.Sos., Pengasuh Rumah Qur’an dan Peradaban Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, Mas’ud berziarah ke makam Allahu Yarham Syekh Abdurrahman Rajagukguk Q.S. di kawasan Pondok Persulukan Serambi Babussalam, Simalungun. Kunjungan itu sekaligus menjadi momentum silaturahmi dengan Tuan Guru Batak (TGB), Syekh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk, M.A.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan tersebut berlangsung bersama Guru Besar Universitas Negeri Medan (UNIMED), mantan Rektor UNIMED, Prof. Dr. Syamsul Gultom, M.Kn., M.Kes. Komisioner KPU Kepulauan Riau, Jernih Siregar, M.Sos. serta Ketua Yayasan Pondok Pesantren MTs Nur Zam-Zam Marindal, Abdul Hakim Siregar, M.Pd.
Di tengah suasana penuh kekhidmatan, Mas’ud menangkap satu pesan singkat dari Tuan Guru Batak yang menurutnya memiliki makna mendalam dan layak menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
“Doa mesti mendahului ikhtiar.”
Kalimat sederhana itu menyimpan pelajaran besar tentang hubungan antara doa, usaha, dan ketundukan manusia kepada Allah SWT. Bagi Mas’ud, pesan tersebut mengingatkan bahwa setiap langkah kehidupan semestinya diawali dengan kesadaran spiritual, disertai ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta diiringi tawakal kepada Allah SWT.
Menurutnya, Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk menjadikan doa sebagai bagian penting dalam setiap aktivitas. Anjuran mengawali pekerjaan dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim, misalnya, bukan sekedar kebiasaan lisan, melainkan pengingat agar setiap perbuatan diniatkan dalam kebaikan dan dijalankan sesuai tuntunan Allah SWT.
Keteladanan Rasulullah SAW juga tercermin melalui doa-doa yang menyertai berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari bangun tidur, hendak tidur kembali, sebelum dan sesudah makan, masuk dan keluar rumah, hingga ketika memasuki dan meninggalkan kamar mandi.
Rangkaian doa tersebut mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak terpisah dari hubungan dengan Sang Pencipta. Setiap aktivitas memiliki dimensi ibadah ketika dilakukan dengan niat yang baik, cara yang benar, dan tetap berpegang pada tuntunan agama.
Bagi Mas’ud, kekuatan doa tidak dapat dipandang hanya dari sudut pandang logika material. Doa merupakan bentuk penghambaan, harapan, dan keyakinan seorang hamba terhadap pertolongan Allah SWT. Dalam tradisi Islam, doa bahkan dikenal sebagai senjata orang beriman karena menguatkan hati, menumbuhkan keteguhan, dan menghadirkan harapan ketika manusia menghadapi berbagai keterbatasan.
Namun, doa bukan alasan untuk meninggalkan usaha. Justru, pesan “doa mesti mendahului ikhtiar” mengandung pengingat bahwa usaha perlu dibangun di atas niat yang lurus, disertai adab, kesungguhan, dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Manusia berkewajiban berikhtiar, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada kehendak-Nya.
Lebih jauh, Mas’ud memandang bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga membimbing hubungan antarmanusia melalui akhlak mulia. Adab terhadap guru, penghormatan kepada orang tua, kasih sayang kepada sesama, serta kesungguhan menapaki jalan kebaikan merupakan bagian dari nilai-nilai yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ziarah ke makam para ulama dan silaturahmi dengan para guru bukan semata-mata perjalanan fisik, melainkan juga kesempatan untuk mengambil pelajaran dari sejarah, mengenang keteladanan, dan memperkuat komitmen dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Bagi Mas’ud, pesan yang disampaikan Tuan Guru Batak menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari kejernihan hati, keluhuran akhlak, dan kesungguhan dalam menapaki jalan pengabdian.
Menutup refleksi spiritualnya, ia berharap Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat kepada para guru, orang tua, para ulama, dan seluruh umat Rasulullah Muhammad SAW yang dengan hati tulus terus berjuang di jalan kebaikan dan cinta.
Sebab, ketika doa mendahului ikhtiar, usaha dilandasi niat yang benar, dan perjalanan hidup dijaga dengan akhlak mulia, setiap langkah diharapkan menjadi jalan menuju keberkahan dan keselamatan.
Bidik.co.id
Jauhari M Yunus S.E. CFLE. C.JI. C.LWI


























