Bidik.co.id, —Aceh Tengah —
Sekitar 2.000 penonton memadati Arena Pacuan Kuda H.M. Hasan Gayo, Kampung Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, Sabtu (29/8/2026). Di tengah riuh sorakan dan ketatnya persaingan 205 ekor kuda, aparat gabungan TNI-Polri dan Satpol PP/WH berjaga di sejumlah titik untuk memastikan final pacuan kuda tradisional Gayo berlangsung aman hingga perlombaan berakhir.
Final edisi pertama yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Antusiasme warga terlihat sejak perlombaan berlangsung, dengan penonton memenuhi area sekitar lintasan untuk menyaksikan sembilan race yang dipertandingkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Besarnya jumlah massa membuat aspek keamanan dan ketertiban menjadi perhatian utama. Personel ditempatkan di titik-titik strategis untuk memantau pergerakan penonton, menjaga situasi tetap kondusif, serta mengantisipasi potensi gangguan selama perlombaan berlangsung.
Pengamanan dipantau langsung Kabag Ops Polres Aceh Tengah, Kasat Lantas, Kapolsek Pegasing, KBO Lantas, dan KBO Samapta. Mereka berkoordinasi dengan personel TNI serta Satpol PP/WH dalam mengawal jalannya kegiatan
.
“Pengamanan kami lakukan secara terpadu bersama TNI dan Satpol PP/WH. Fokus kami memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan masyarakat dapat menikmati pacuan kuda dengan nyaman,” kata Kapolres Aceh Tengah AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H., melalui Kasi Humas AKP Rasimin.
Tak hanya penonton yang datang dalam jumlah besar, persaingan peserta juga menunjukkan tingginya antusiasme terhadap olahraga tradisional khas dataran tinggi Gayo. Dari 205 ekor kuda yang berlaga, 116 berasal dari Aceh Tengah, 83 dari Bener Meriah, dan 19 dari Gayo Lues.
Sembilan race digelar dalam final tersebut. Sejumlah kuda berhasil keluar sebagai juara, di antaranya Peluru Kendali pada kelas Gayo Muda, Lintes Genting Kanis pada kelas F Muda, Semayang Kenko pada kelas E Muda, Gayo Taris pada kelas Gayo Tua, Albatroz pada kelas F Tua, serta Putri Gelimang Raya pada kelas A/B Perdana.
Rasimin mengatakan, kehadiran polisi di tengah ribuan penonton bukan semata untuk melakukan pengamanan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat menikmati pesta rakyat tersebut dengan rasa aman.
“Pacuan kuda merupakan bagian dari tradisi dan olahraga yang memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat Gayo. Karena itu, kami ingin memastikan kegiatan ini berlangsung aman, tertib, dan tetap menjadi hiburan yang nyaman bagi masyarakat,” ujarnya.
Pengamanan terpadu tersebut berlangsung hingga seluruh rangkaian final selesai. Riuh sorakan penonton pun menjadi bagian dari kemeriahan pacuan kuda Gayo, sementara situasi di sekitar arena tetap terjaga aman dan kondusif.
Bidik.co.id ( Jauhari M Yunus CFLE )




























