DI DEPAN PEMBIBITAN YANG DITEPUKI PEJABAT, WARGA HUNTARA KM 60 HIDUP DALAM GENANGAN AIR MATA

- Editor

Jumat, 6 November 2026 - 06:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

Oplus_16908288

BENER MERIAH, — BIDIK.CO.ID —Nanggroe Aceh Darussalam – Jumat, 6 November 2026.

Di Kilometer 60, Dusun Pelita, Desa Rime Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Di tanah bersejarah Radio Rimba Raya, tempat dulu suara kemerdekaan Indonesia dipertahankan, hari ini ada suara lain yang pelan-pelan tenggelam.

Suara seorang bapak bernama AG. Penyintas banjir dan longsor hidrometeorologi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika rumahnya diterjang air dan lumpur, ia kehilangan segalanya. Ketika namanya disebut lolos mendapat Hunian Sementara (Huntara) di KM 60, ia sujud syukur. Ia pikir negara hadir.

“Senang, bahagia, ada perhatian pemerintah pusat,” katanya kepada kami.

Hari pertama pembagian kunci, ia terpukau. Bukan karena indah, tapi karena kaget. Begitu membuka pintu triplek 5 mili yang tipis itu, ia melihat kenyataan:

Lantai hanya asal di-semen. Kasar, retak. Kamar mandi asal ada. Air buangan tidak mengalir keluar, malah berbalik masuk ke dalam kamar. Listrik tidak menyala. Jendela pun dari triplek yang sama, yang jika hujan, rembes.

AG diam. Ia mengira, mungkin memang begini standar bantuan untuk orang kecil seperti dia. Ia tidak berani protes. Ia terima.

Dua minggu ia bertahan. Hingga satu malam, langit Gayo yang di ketinggian 970 meter di atas permukaan laut itu menurunkan hujan yang cukup deras.

Atap seng bocor. Bukan bocor kecil. Air mengucur deras dari setiap sambungan. Dalam hitungan menit, kamar yang ia sebut rumah itu tergenang. Seperti kolam renang.

Malam itu, AG tidak tidur. Ia berdiri di tengah genangan, di dalam rumah bantuan yang seharusnya melindunginya. Dan di dalam benaknya terlintas satu kalimat yang ia titipkan kepada kami untuk disampaikan kepada Bapak-Bapak Pejabat di Pusat dan di Daerah:

“Beginikah cara Negara memberikan bantuan kepada rakyatnya yang tertimpa musibah besar di dataran tinggi Gayo?”

Pertanyaan itu tidak butuh jawaban cepat. Pertanyaan itu butuh hati.

AG kemudian mengadu. Ia lapor ke Koordinator Huntara KM 60. Koordinator meneruskan ke pemerintah terkait di kabupaten. Jawabannya singkat: “Nanti kita turun ke lapangan.”

Benar, beberapa hari kemudian mereka turun. Melihat. Mengangguk. Lalu berkata: “Nanti kita hubungi kontraktor untuk menyelesaikan.”

Singkat cerita, sampai hari ini, 6 November 2026, saat berita ini kami rilis, tidak ada satu pun perbaikan. Tidak ada tukang. Tidak ada kontraktor. Yang ada hanya janji yang menguap bersama kabut Gayo.

Sebagian warga sudah menyerah. Dengan terpaksa, mereka menyewa rumah di tempat lain. Mereka membayar sewa, padahal mereka adalah korban bencana yang seharusnya mendapat tempat tinggal gratis dari negara. Mereka menjadi pengungsi di negeri sendiri.

Luka Kedua: Air Mereka Diduga Diambil

Baca Juga:  Sinergi TNI–Polri dan Rutan Bener Meriah Perkuat Keamanan, Wujudkan Rutan Bersih HALINAR

Belum sembuh luka karena rumah tak layak, datang luka kedua.

Tepat di depan Huntara KM 60, ada lokasi pembibitan kopi. Pembibitan yang subur, hijau, tertata rapi.

Warga menduga, sumur bor yang seharusnya menjadi sumber kehidupan warga Huntara, digunakan untuk menyiram bibit kopi itu. Mesin pompa diduga menyala dari malam sampai pagi, setiap malam.

Akibatnya? Mesin pompa jebol. Rusak total. Lebih kurang 4 bulan rusak itu dibiarkan. Dibiarkan begitu saja. Warga Huntara tidak punya air.

Kami masih ingat, pembibitan di depan Huntara itu pernah dikunjungi oleh pejabat dari kementerian pusat. Mereka datang, tertawa lepas, bertepuk tangan meriah, memberi pujian untuk pemerintah daerah.

Betapa ironis.

Di saat tepuk tangan itu menggema di kebun bibit, 20 meter di belakangnya, di balik triplek 5 mili itu, ada rakyat yang menampung air bocor dengan ember, yang mandi dengan air yang balik ke kamar.

Apakah mereka tidak terlihat? Apakah suara mereka tidak terdengar?

Kepada Para Pemilik Hati Nurani

Tulisan ini bukan untuk menghakimi. Tulisan ini adalah ketukan.

Ketukan ke pintu hati Bapak Presiden,Bapak Menteri dalam Negeri, Bapak Gubernur Aceh, Bapak Bupati Bener Meriah, Bapak Kepala Dinas terkait, Bapak Kontraktor pelaksana Huntara modular 6 blok 36 KK itu.

Hampir satu abad Indonesia merdeka dari penjajahan. Tapi apakah rakyat di Dusun Pelita ini sudah benar-benar merasakan merdeka? Merdeka dari bocor, merdeka dari air kotor, merdeka dari janji yang tidak ditepati?

Melalui rilis ini, Bidik.co.id memohon dengan kerendahan hati:

1. Untuk Kapolri yang baru, yang menggaungkan salam Polri Bersama Masyarakat, mohon kiranya turunkan tim untuk melihat langsung kualitas Huntara KM 60 ini. Periksa, apakah ada yang bermain dengan bantuan pemerintah pusat untuk rakyat yang sedang berduka.

2. Untuk Gubernur,Wakil Gubernur Aceh,dan Pihak Terkait,Turun ke Bener Meriah inspeksi kebenarannya di lapangan.

3. Untuk KPK, mohon hadir di Bener Meriah. Dataran tinggi Gayo masih punya banyak PR. Lihatlah satu per satu proyek bantuan bencana. Apakah uang negara benar-benar menjadi rumah, atau hanya menjadi triplek 5 mili?

4. Untuk pemilik pembibitan, jika benar fasilitas warga yang kalian gunakan, kembalikan hak mereka. Jangan injak-injak harga diri mereka yang sudah jatuh tertimpa bencana.

31 Oktober 2026 pukul 12:20 WIB di lorong Huntara KM 60,
Koordinat 4°50’8,052″N 96°44’48,87″E, Index 132. Foto ,dan vidio itu berbicara lebih jujur dari seribu kata pejabat.

Kami tidak membenci pemerintah. Justru karena kami masih percaya pada pemerintah pusat, kami menulis ini. Karena kami yakin, Presiden tidak akan pernah mau rakyatnya tinggal seperti ini.

Berita Terkait

*TEGAS! 24 JAM USAI VIRAL DI BIDIK.CO.ID, JALAN HANCUR KM 56 TAKENGON-BIREUEN LANGSUNG DIBONGKAR – PT KRUENG MEUH KERJA SAMPAI MALAM*
DARI VIRAL JADI PERBAIKAN: KISAH JALAN KM 56 TAKENGON-BIREUEN YANG AKHIRNYA DIPERBAIKI SETELAH DIKRITIK MEDIA*
Polisi Hadir Buka Peluang Masa Depan, Kapolres Bener Meriah Motivasi Peserta Pelatihan BLK Redelong Melalui Program POLIRAN
Operasi Sarang Narkoba (OSN), Polres Bener Meriah Ungkap 10 Kasus, 11 Orang Diamankan dan Ladang Ganja Ditemukan
UNTUK WARGA OPERASI PENGGIRINGAN GAJAH LIAR DI PINTU RIME GAYO
Respon Cepat, Polres Aceh Tengah Amankan Tiga Terduga Pelaku Penyekapan
Kapolres Bener Meriah Salurkan Bantuan Sembako untuk Pondok Pesantren Indonesia Madani Islamic Instruction
Kapolres Bener Meriah Kumpul Bersama Masyarakat, Warga Apresiasi Penertiban BBM Bersubsidi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 18:53 WIB

Hj. Trisyulwati Ivonne Makaminan: Usut Tuntas Kemungkinan Keterlibatan Pihak Asing, Jangan Biarkan Kedaulatan Terancam!

Kamis, 5 November 2026 - 18:49 WIB

Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI) Kubu Raya: 4,5 Ton Pertalite Diselundupkan ke Hulu Kalbar? Usut Tuntas Semua Jaringan!

Kamis, 5 November 2026 - 18:44 WIB

BBM Bersubsidi Adalah Hak Rakyat! RAJAWALI Kubu Raya: Siapa Pun yang Menyalahgunakan Harus Diproses Hukum

Kamis, 5 November 2026 - 07:34 WIB

Suling (Subuh Keliling), Wakapolres Aceh Tengah Ajak Warga Jaga Lingkungan, Keluarga, dan Bijak Bermedia

Kamis, 5 November 2026 - 00:41 WIB

2PC LSM MAUNG Tasikmalaya: Botak Bukan Masalah, Yang Penting Kebijakan & Kinerja Pemerintah Berkualitas!

Selasa, 3 November 2026 - 07:00 WIB

Terbentuknya DPW RAJAWALI Lampung, Hadysa Prana: Niat Tulus & Kekompakan Adalah Kunci Agar Armada Ini Tak Hanya Bersandar di Dermaga!

Selasa, 3 November 2026 - 06:56 WIB

Beredar Rekaman Suara Oknum DPRD Ketapang Minta Rp300 Juta Catut Nama Petinggi TNI-Polri? DPP MAUNG: Ini Dugaan Pencaloan & Pemerasan, Usut Tuntas Sesuai Hukum Berlaku!

Senin, 2 November 2026 - 17:26 WIB

KPK Harus Bertindak Tegas! Ketua RAJAWALI Sekadau: Dugaan Risywah Muktamar NU Terus Bergulir, Jangan Ada yang Dikecualikan!

Berita Terbaru