BIDIK.CO.ID
*PINTU RIME GAYO, BENER MERIAH -*
Jika Anda pernah melintas Jalan Nasional Takengon-Bireuen di KM 56, Desa Alur Gading, Dusun Transad, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Anda pasti hafal rasanya. Jalan hancur, berlubang dalam, dan tergenang air seperti kubangan kerbau. Kendaraan harus antre, mengerem mendadak, bahkan ada yang mogok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Puncak kekesalan warga pecah pada *Rabu, 04 November 2026*. Media *Bidik.co.id*
Menurunkan berita berani dengan judul: _”JALAN NASIONAL TAKENGON-BIREUEN DI KM 56 PINTU RIME GAYO HANCUR, OKNUM MENGAKU BPJN BANDA ACEH BERSIKAP AROGAN KEPADA WARTAWAN.”_
Berita itu viral. Dibagikan ratusan kali di WhatsApp Group warga Gayo.
Dan apa yang terjadi 24 jam kemudian sungguh di luar dugaan.
*KAMIS SORE 05 NOVEMBER 2026, PUKUL 16.00 WIB – GERAK CEPAT DIMULAI*
Tanpa banyak seremoni, alat berat masuk. *PP dan PT. KRUENG MEUH* bergerak cepat.
Tepat pukul 16.00 WIB, pengerjaan badan jalan dimulai. Ini bukan tambal sulam biasa. Tim teknis melakukan pekerjaan serius: *Jalan dibelah terlebih dahulu*, kemudian *dipasang 2 unit pipa gorong-gorong besar* di bawah badan jalan.
Tujuannya satu: *Supaya air tidak lagi tergenang di badan jalan.* Selama ini, inilah akar masalahnya. Air hujan dari gunung tidak ada saluran, menggenang di jalan, merendam aspal berbulan-bulan, hingga akhirnya hancur.
Metode ini dinilai warga jauh lebih cerdas dan permanen.
*ORANG-ORANG DI BALIK LAYAR YANG BEKERJA SAMPAI MALAM*
Di lapangan, dua sosok menjadi kunci:
1. *SANDIKA* – Pengawas Lapangan dari PP. Orangnya tenang, tapi tegas mengatur teknis.
2. *Amar* – Pengawas Lapangan dari PT. KRUENG MEUH. Sejak sore hingga larut malam, ia tak beranjak dari lokasi.
Di belakang mereka, ada sosok *H. Yudi atau Tgk. Haji Mawardi*, Direktur Utama PT. KRUENG MEUH. Meski tidak di lapangan, ia terus memantau via telepon dan melalui Amar, memberikan arahan agar pekerjaan harus cepat tapi bagus.
“Pak Haji Yudi berpesan, jangan asal jadi. Harus bagus, biar tahan lama. Ini jalan rakyat,” ujar Amar kepada awak media.


Yang membuat haru, *Camat Pintu Rime Gayo, Mulyadi. S.Pd. M.Si* hadir langsung di lokasi sejak sore. Dengan sepatu boot, ia berdiri di pinggir jalan, ikut mengawasi. Bagi Mulyadi, jalan ini adalah urat nadi warganya.
“Ini akses utama Bener Meriah – Bireuen. Kalau jalan ini putus, ekonomi Gayo lumpuh. Terima kasih PT Krueng Meuh yang gerak cepat,” kata Mulyadi.
*DIKawal MEDIA HINGGA PUKUL 22.00 WIB – BUKTI KERJA NYATA*
Salutnya lagi, pekerjaan tidak berhenti saat maghrib. Awak media Bidik.co.id yang sengaja bertahan di lokasi mencatat, hingga *pukul 22.00 WIB malam*, Amar bersama timnya dari PT. KRUENG MEUH masih melanjutkan pekerjaan di bawah lampu sorot.
Debu, dinginnya malam Gayo, dan gerimis tidak menghentikan mereka.
Inilah bukti, bahwa kritik media jika disampaikan dengan benar, bisa menjadi energi positif untuk perubahan.







Dari jalan hancur yang viral karena arogansi oknum, kini menjadi kisah gerak cepat yang patut diapresiasi.
Warga berharap, setelah pemasangan 2 pipa ini, pengaspalan ulang segera dilakukan dan jalan KM 56 kembali mulus.
*Karena bagi warga Gayo, jalan mulus bukan soal kenyamanan, tapi soal harga kopi, sayur, dan harapan hidup.*



























