BENER MERIAH, — BIDIK.CO.ID —Nanggroe Aceh Darussalam – Jumat, 6 November 2026.
Di Kilometer 60, Dusun Pelita, Desa Rime Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Di tanah bersejarah Radio Rimba Raya, tempat dulu suara kemerdekaan Indonesia dipertahankan, hari ini ada suara lain yang pelan-pelan tenggelam.
Suara seorang bapak bernama AG. Penyintas banjir dan longsor hidrometeorologi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika rumahnya diterjang air dan lumpur, ia kehilangan segalanya. Ketika namanya disebut lolos mendapat Hunian Sementara (Huntara) di KM 60, ia sujud syukur. Ia pikir negara hadir.
“Senang, bahagia, ada perhatian pemerintah pusat,” katanya kepada kami.
Hari pertama pembagian kunci, ia terpukau. Bukan karena indah, tapi karena kaget. Begitu membuka pintu triplek 5 mili yang tipis itu, ia melihat kenyataan:
Lantai hanya asal di-semen. Kasar, retak. Kamar mandi asal ada. Air buangan tidak mengalir keluar, malah berbalik masuk ke dalam kamar. Listrik tidak menyala. Jendela pun dari triplek yang sama, yang jika hujan, rembes.
AG diam. Ia mengira, mungkin memang begini standar bantuan untuk orang kecil seperti dia. Ia tidak berani protes. Ia terima.
Dua minggu ia bertahan. Hingga satu malam, langit Gayo yang di ketinggian 970 meter di atas permukaan laut itu menurunkan hujan yang cukup deras.
Atap seng bocor. Bukan bocor kecil. Air mengucur deras dari setiap sambungan. Dalam hitungan menit, kamar yang ia sebut rumah itu tergenang. Seperti kolam renang.
Malam itu, AG tidak tidur. Ia berdiri di tengah genangan, di dalam rumah bantuan yang seharusnya melindunginya. Dan di dalam benaknya terlintas satu kalimat yang ia titipkan kepada kami untuk disampaikan kepada Bapak-Bapak Pejabat di Pusat dan di Daerah:
“Beginikah cara Negara memberikan bantuan kepada rakyatnya yang tertimpa musibah besar di dataran tinggi Gayo?”
Pertanyaan itu tidak butuh jawaban cepat. Pertanyaan itu butuh hati.
AG kemudian mengadu. Ia lapor ke Koordinator Huntara KM 60. Koordinator meneruskan ke pemerintah terkait di kabupaten. Jawabannya singkat: “Nanti kita turun ke lapangan.”
Benar, beberapa hari kemudian mereka turun. Melihat. Mengangguk. Lalu berkata: “Nanti kita hubungi kontraktor untuk menyelesaikan.”
Singkat cerita, sampai hari ini, 6 November 2026, saat berita ini kami rilis, tidak ada satu pun perbaikan. Tidak ada tukang. Tidak ada kontraktor. Yang ada hanya janji yang menguap bersama kabut Gayo.
Sebagian warga sudah menyerah. Dengan terpaksa, mereka menyewa rumah di tempat lain. Mereka membayar sewa, padahal mereka adalah korban bencana yang seharusnya mendapat tempat tinggal gratis dari negara. Mereka menjadi pengungsi di negeri sendiri.
Luka Kedua: Air Mereka Diduga Diambil
Belum sembuh luka karena rumah tak layak, datang luka kedua.
Tepat di depan Huntara KM 60, ada lokasi pembibitan kopi. Pembibitan yang subur, hijau, tertata rapi.
Warga menduga, sumur bor yang seharusnya menjadi sumber kehidupan warga Huntara, digunakan untuk menyiram bibit kopi itu. Mesin pompa diduga menyala dari malam sampai pagi, setiap malam.
Akibatnya? Mesin pompa jebol. Rusak total. Lebih kurang 4 bulan rusak itu dibiarkan. Dibiarkan begitu saja. Warga Huntara tidak punya air.

Kami masih ingat, pembibitan di depan Huntara itu pernah dikunjungi oleh pejabat dari kementerian pusat. Mereka datang, tertawa lepas, bertepuk tangan meriah, memberi pujian untuk pemerintah daerah.
Betapa ironis.
Di saat tepuk tangan itu menggema di kebun bibit, 20 meter di belakangnya, di balik triplek 5 mili itu, ada rakyat yang menampung air bocor dengan ember, yang mandi dengan air yang balik ke kamar.
Apakah mereka tidak terlihat? Apakah suara mereka tidak terdengar?
Kepada Para Pemilik Hati Nurani
Tulisan ini bukan untuk menghakimi. Tulisan ini adalah ketukan.
Ketukan ke pintu hati Bapak Presiden,Bapak Menteri dalam Negeri, Bapak Gubernur Aceh, Bapak Bupati Bener Meriah, Bapak Kepala Dinas terkait, Bapak Kontraktor pelaksana Huntara modular 6 blok 36 KK itu.
Hampir satu abad Indonesia merdeka dari penjajahan. Tapi apakah rakyat di Dusun Pelita ini sudah benar-benar merasakan merdeka? Merdeka dari bocor, merdeka dari air kotor, merdeka dari janji yang tidak ditepati?
Melalui rilis ini, Bidik.co.id memohon dengan kerendahan hati:
1. Untuk Kapolri yang baru, yang menggaungkan salam Polri Bersama Masyarakat, mohon kiranya turunkan tim untuk melihat langsung kualitas Huntara KM 60 ini. Periksa, apakah ada yang bermain dengan bantuan pemerintah pusat untuk rakyat yang sedang berduka.
2. Untuk Gubernur,Wakil Gubernur Aceh,dan Pihak Terkait,Turun ke Bener Meriah inspeksi kebenarannya di lapangan.
3. Untuk KPK, mohon hadir di Bener Meriah. Dataran tinggi Gayo masih punya banyak PR. Lihatlah satu per satu proyek bantuan bencana. Apakah uang negara benar-benar menjadi rumah, atau hanya menjadi triplek 5 mili?
4. Untuk pemilik pembibitan, jika benar fasilitas warga yang kalian gunakan, kembalikan hak mereka. Jangan injak-injak harga diri mereka yang sudah jatuh tertimpa bencana.




31 Oktober 2026 pukul 12:20 WIB di lorong Huntara KM 60,
Koordinat 4°50’8,052″N 96°44’48,87″E, Index 132. Foto ,dan vidio itu berbicara lebih jujur dari seribu kata pejabat.
Kami tidak membenci pemerintah. Justru karena kami masih percaya pada pemerintah pusat, kami menulis ini. Karena kami yakin, Presiden tidak akan pernah mau rakyatnya tinggal seperti ini.



























