ONGKOS MAHAL KELISTRIKAN YANG RENTAN*

- Editor

Senin, 8 Juni 2026 - 02:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Bidik.co.id
Pemadaman listrik massal (_blackout_) di sebagian besar wilayah Sumatera pada Mei 2026 menjadi pengingat bahwa energi bukan sekadar urusan teknis, melainkan fondasi utama kehidupan ekonomi modern.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika listrik padam, bukan hanya lampu mati, juga aktivitas industri, transaksi digital dan jaringan komunikasi terganggu. Dalam hitungan jam, kerugian yang ditimbulkan dapat mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah.

Penjelasan PLN bahwa _blackout_ tersebut dipicu oleh gangguan pada jaringan transmisi tegangan tinggi yang menyebabkan _power swing_ dan berujung pada terpisahnya sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera.

Secara teknis, kejadian itu dapat dijelaskan sebagai gangguan sistem. Namun dari perspektif ekonomi politik, _blackout_ membuka persoalan lebih mendasar, yakni ketahanan energi nasional dan kapasitas negara menjamin keberlangsungan infrastruktur strategis.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan sektor energi tidak lagi cukup dilihat dari banyaknya pembangkit yang dibangun atau cadangan energi. Jauh penting adalah kemampuan sistem untuk tetap bekerja ketika menghadapi gangguan.

Dalam konteks itulah _blackout_ Sumatera harus dibaca sebagai alarm bagi masa depan ketahanan energi Indonesia.

*_Blackout_ dan Biaya Ekonomi*

Listrik merupakan urat nadi perekonomian modern. Hampir seluruh aktivitas ekonomi bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Industri manufaktur, pertambangan, perdagangan, logistik, telekomunikasi, hingga layanan keuangan digital hanya dapat beroperasi secara optimal apabila sistem kelistrikan berjalan tanpa gangguan.

Pulau Sumatera memiliki posisi sangat strategis dalam perekonomian Indonesia. Wilayah ini menjadi pusat produksi minyak bumi, gas alam, batu bara, kelapa sawit, dan berbagai komoditas ekspor utama.

Selain itu, menjadi basis penting industri pengolahan yang terhubung dengan pasar domestik maupun internasional. Karena itu, gangguan listrik berskala regional tidak hanya berdampak pada masyarakat lokal, tetapi juga memengaruhi rantai pasok nasional.

Dalam teori sistem kelistrikan, _blackout_ biasanya terjadi ketika gangguan pada satu titik berkembang menjadi kegagalan sistemik—dikenal sebagai _cascading failure._

Ketika satu bagian jaringan gagal beroperasi, beban sistem berpindah ke bagian lain hingga memicu keruntuhan yang lebih luas. Semakin besar jaringan interkoneksi, semakin besar pula risiko yang harus dikelola.

Pengalaman internasional menunjukkan biaya ekonomi akibat blackout sangat besar. Pada 2003, Amerika Serikat dan Kanada mengalami salah satu _blackout_ terbesar dalam sejarah modern.

Sekitar 50 juta orang terdampak dan aktivitas ekonomi di sejumlah kota besar lumpuh selama berjam-jam. Berbagai studi memperkirakan kerugian ekonomi mencapai antara USD 4 miliar hingga USD 10 miliar.

Peristiwa serupa terjadi di India pada 2012. Tiga jaringan listrik utama kolaps secara berurutan sehingga lebih dari 600 juta penduduk terdampak.

Transportasi kereta api terganggu, aktivitas industri berhenti, dan berbagai layanan publik mengalami disrupsi. Hingga kini, peristiwa tersebut masih tercatat sebagai _blackout_ terbesar dalam sejarah dunia modern.

Kasus yang lebih mutakhir terjadi di Spanyol dan Portugal pada 2025. Pemadaman listrik besar-besaran menyebabkan gangguan pada sistem transportasi, telekomunikasi, perbankan, dan aktivitas industri.

Baca Juga:  PROF DR SUTAN NASOMAL SANGAT PRIHATIN DENGAN KASUS GANTUNG DIRI IBU RUMAH TANGGA MELIBATKAN ANAK "INI ADALAH KRISIS SOSIAL DESA GAGAL MELINDUNGI WARGANYA"

Investigasi menunjukkan _blackout_ tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi kerentanan jaringan, lemahnya kapasitas cadangan, dan ketidaksiapan sistem menghadapi gangguan.

Pelajaran dari berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa blackout hampir selalu lebih mahal dibandingkan biaya untuk mencegahnya.

Dalam ekonomi energi terdapat konsep _Value of Lost Load_ (VoLL), yaitu nilai ekonomi yang hilang akibat tidak tersedianya listrik. Berbagai penelitian menunjukkan nilai kerugian akibat listrik tidak tersalurkan dapat berkali-kali lipat besarnya dibandingkan biaya produksi listrik itu sendiri.

Dalam konteks Sumatera, kerugian ekonomi tidak hanya berasal dari hilangnya penjualan listrik. Kerugian yang jauh lebih besar muncul akibat berhentinya aktivitas produksi, terganggunya distribusi barang, tertundanya transaksi ekonomi, dan menurunnya produktivitas tenaga kerja, hingga terganggunya layanan kesehatan dan operasional dengan genset.

Lebih penting lagi adalah dampak terhadap iklim investasi. Investor tidak hanya memperhatikan tarif listrik yang kompetitif. Mereka juga memperhitungkan tingkat keandalan pasokan energi.

Gangguan listrik berulang dapat meningkatkan persepsi risiko dan mengurangi daya tarik investasi pada sektor-sektor yang membutuhkan pasokan energi stabil.

*Kedaulatan dan Paradoks Energi*

_Blackout_ Sumatera juga membuka pertanyaan yang lebih mendasar mengenai makna kedaulatan energi Indonesia. Selama ini kedaulatan energi sering dipahami sebagai kemampuan negara menyediakan energi yang cukup.

Ukurannya biasanya berupa kapasitas pembangkit, cadangan energi, atau volume produksi sumber daya alam. Padahal definisi tersebut terlalu sempit.

Kedaulatan energi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan energi, tetapi juga kemampuan menjaga keberlangsungan sistem energi secara keseluruhan. Energi yang melimpah tidak akan banyak berarti apabila jaringan distribusi dan transmisinya rentan terhadap gangguan.

Di sinilah muncul paradoks energi Indonesia. Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar dunia dan memiliki cadangan energi yang melimpah. Namun pada saat yang sama Indonesia masih mengimpor BBM dan LPG dalam jumlah besar.

Ketika harga minyak dunia meningkat, tekanan terhadap perekonomian nasional ikut membesar. Kenaikan harga energi global berdampak langsung terhadap neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

Impor energi yang lebih mahal meningkatkan kebutuhan devisa dan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pada saat yang sama, pemerintah harus menyediakan subsidi dan kompensasi energi dalam jumlah yang lebih besar untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Di sinilah hubungan _blackout_ dan ekonomi politik energi menjadi penting. Ketika sebagian besar sumber daya fiskal terserap untuk mengelola volatilitas harga energi, ruang untuk investasi jangka panjang pada infrastruktur energi menjadi terbatas.

Padahal penguatan jaringan transmisi, pembangunan smart grid, penyimpanan energi merupakan syarat utama bagi ketahanan energi masa depan.

Di era ekonomi digital, blackout bukan sekadar gangguan teknis. Ia menunjukkan betapa mahal harga yang harus dibayar ketika sistem kelistrikan tidak cukup tangguh menghadapi gangguan.

Pada akhirnya, keandalan pasokan listrik merupakan prasyarat bagi produktivitas, kepercayaan investor, dan daya saing ekonomi nasional.

Bidik.co.id / Jauhari M Yunus CFLE

Berita Terkait

DPD LSM MAUNG RIAU: JANGAN BERHENTI PADA PEMERIKSAAN DOKUMEN, UNGKAP SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB JIKA DITEMUKAN UNSUR PIDANA!
Hukum Tajam ke Bawah Saja = Bukan Hukum — Sekjen RAJAWALI: Tegakkan Hukum Tanpa Pandang Bulu!
DEMI KEADILAN, DEMI KEBENARAN, DEMI RAKYAT: Semangat MAUNG yang Tak Pernah Padam
Sistem Bisa Melindungi Diri Sendiri? DPD RAJAWALI Batam: Mengapa Saat Dibutuhkan, Semua Tidak Berfungsi? Ketua RAJAWALI Batam: Pulihkan Seluruh Kerugian, Rp57,3 Miliar Adalah Uang Rakyat
Disiram Water Cannon Meski Tunjukkan ID Pers ? DPP RAJAWALI: Kabid Propam, Dewan Pers & Komnas HAM Diminta Turun Tangan!
Dilarang Foto, Didorong, Disiram Water Cannon? DPP RAJAWALI: Hukum Melindungi Pers, Kabid Propam Diminta Bertindak Tegas & Terbuka!
DePA-RI – UNISRI Bersinergi Cetak Advokat Berkarakter, Profesional, dan Berintegritas
MAUNG Riau Apresiasi Langkah Kejati Riau Tindak Kasus Dugaan Korupsi Dana PI Blok Rokan di Rokan Hilir
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Mobil Operasional SPPG Malintang, Diduga Sengaja Gunakan Pertalite. Aktivis Bereaksi Keras.

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Gerebek Dua Lokasi di Tanjung Morawa, Satresnarkoba Polresta Deli Serdang Bekuk 3 Terduga Pengedar Sabu, 12 Gram Lebih Barang Bukti Disita

Kamis, 22 Oktober 2026 - 05:04 WIB

Grebek Rantau Panjang, Satresnarkoba Polresta Deli Serdang Bekuk 6 Orang Pengguna Narkoba

Rabu, 21 Oktober 2026 - 05:25 WIB

Gunakan LPG 3 Kg Subsidi dan Cuci Ompreng Sembarangan, SPPG Sibaruang Siabu Diduga Tabrak Aturan BGN

Selasa, 20 Oktober 2026 - 17:05 WIB

Skandal 48 Ton Pupuk Subsidi diduga “Raib”. Plt Kadis Pertanian Madina Didesak Copot Izin Kios UD Rizki Roburan.

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:39 WIB

Diduga 48 Ton Pupuk Urea Subsidi Belum Diterima Petani Roburan Lombang, Kadis Pertanian segera panggil pemilik Kios UD Rizki

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:28 WIB

Dihadiri Sekejen Pusat, Musda JATMAN Sumut Tetapkan TGB Syekh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk, MA sebagai Mudir 2026-2031

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:16 WIB

Gerakan SIGAP Digelorakan, Dewan Pendidikan Deli Serdang Ajak Masyarakat Bijak Bermedsos

Berita Terbaru