Prof. Dr. Sutan Nasomal: Iuran Wajib di Sekolah Berpotensi Melanggar Aturan

- Editor

Kamis, 30 April 2026 - 12:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bidik.co.id Takengon, Selasa (28/04/2025)

Dakwaan amalan pemerasan di beberapa sekolah menengah dan sekolah vokasional di Kabupaten Aceh Tengah semakin kuat.

Sebilangan ibu bapa mendakwa dibebani dengan yuran tetap dengan jumlah yang telah ditetapkan, menimbulkan persoalan serius mengenai kesahihan dan ketelusan pengurusan mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Malah, kerajaan melalui program Bantuan Operasi Sekolah (BOS) telah memperuntukkan bajet untuk menampung keperluan pendidikan pelajar.

Walau bagaimanapun, di lapangan, ibu bapa masih diminta membayar beberapa yuran yang dirujuk sebagai yuran jawatankuasa dan sumbangan lain.

Merujuk kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, khususnya Pasal 12 ayat (1), komite sekolah dilarang memungut biaya dari siswa atau orang tua/wali.

Peraturan ini hanya membenarkan derma sukarela tanpa jumlah nominal yang ditetapkan.

Salah seorang penjaga pelajar di SMKN 1 Takengon, yang tidak mahu namanya disiarkan, berkata mereka diminta membayar yuran tetap setiap bulan.

“Setiap bulan kami diminta membayar sekitar Rp. 100,000, yang terdiri daripada Rp. 90,000 yuran jawatankuasa dan Rp. 10,000 yuran majlis pelajar,” katanya.

Berdasarkan anggaran populasi pelajar seramai 1,200 orang, potensi pengumpulan dana bulanan boleh mencecah Rp 120 juta. Setiap tahun, angka itu berpotensi melebihi Rp 1.4 bilion.

Keadaan ini menimbulkan persoalan awam: apakah mekanisme untuk menguruskan dana ini?

Adakah ia telah dilakukan secara telus dan mengikut peraturan?

Baca Juga:  Aksi Kemanusiaan Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Aceh Tengah Gelar Donor Darah Untuk Masyarakat

Sebut harga itu diperoleh selepas pasukan editorial mengesahkannya secara langsung dengan pakar undang-undang pendidikan Prof. Dr. Sutan Nasomal di pejabatnya di Jakarta.

Dalam kenyataannya, beliau menekankan bahawa amalan kutipan caruman pada kadar nominal dan rutin berpotensi melanggar peruntukan yang terpakai.

“Jika terdapat pembayaran mandatori bagi jumlah tertentu yang ditetapkan oleh sekolah atau jawatankuasa, maka itu termasuk dalam kategori levi, bukan derma. Dan itu jelas tidak dibenarkan oleh peraturan,” katanya kepada para editor.

Beliau juga menekankan bahawa setiap bentuk pengumpulan dana di persekitaran sekolah mestilah mematuhi prinsip sukarela dan telus.

“Sekolah tidak boleh membebankan ibu bapa dengan tanggungjawab kewangan melebihi had yang ditetapkan. Tambahan pula, penggunaan dana mestilah telus, boleh diaudit dan bertanggungjawab kepada orang ramai,” tambahnya.

Sehingga kini, sekolah yang disebut dalam aduan ibu bapa itu belum memberikan kenyataan rasmi. Percubaan media untuk mengesahkan perkara itu juga tidak menerima sebarang maklum balas.

Sementara itu, Ketua Cawangan Pejabat Pendidikan (Kacabdin) bagi kawasan tempatan tidak dapat dihubungi untuk mendapatkan komen.

Apabila dihubungi pada hari Khamis (30/04/2026), nombor telefon yang dimaksudkan tidak aktif.

Kekurangan penjelasan daripada pihak berkaitan telah menguatkan lagi tekanan awam agar pihak berkuasa segera campur tangan bagi menjalankan audit dan penyeliaan.

Tanpa langkah tegas, dibimbangi amalan serupa akan terus berulang dan membebankan masyarakat.

Berita Terkait

Persempit Ruang Gerak Balap Liar, Polres Aceh Tengah Intensifkan Patroli Malam
Lewat Safari Subuh Rabu Berkah, Polres Aceh Tengah Edukasi Masyarakat tentang Bahaya Narkoba dan Pengaruh Negatif Teknologi
Hari Bhayangkara ke-80, Polres Aceh Tengah dan Bener Meriah Gelar Ziarah Makam Pahlawan Kenang Jasa Pahlawan
Tabur Bunga Penuh Makna, Polres Bener Meriah dan Polres Aceh Tengah Kenang Pengorbanan Pahlawan
Kepedulian Hari Bhayangkara Ke-80, Polres Aceh Tengah Gelar Bakti Kesehatan Khitanan Massal untuk Masyarakat
Kasus pemukulan oleh ASN guru SDN 1 linge di desa kebet, kini telah di lakukan restorative justice di polres Aceh Tengah
Polres Aceh Tengah Padukan Budaya, Olahraga dan Semangat Bhayangkara dalam Car Free Day Akbar, Ribuan Masyarakat Meriahkan “Rupa Rasa Warisan”
Menggapai Keberkahan di Usia Ke-80 Bhayangkara, Polres Aceh Tengah Gelar Dzikir dan Santunan Anak Yatim
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:05 WIB

Persempit Ruang Gerak Balap Liar, Polres Aceh Tengah Intensifkan Patroli Malam

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:07 WIB

Lewat Safari Subuh Rabu Berkah, Polres Aceh Tengah Edukasi Masyarakat tentang Bahaya Narkoba dan Pengaruh Negatif Teknologi

Selasa, 16 Juni 2026 - 05:57 WIB

Tabur Bunga Penuh Makna, Polres Bener Meriah dan Polres Aceh Tengah Kenang Pengorbanan Pahlawan

Senin, 15 Juni 2026 - 18:45 WIB

Kepedulian Hari Bhayangkara Ke-80, Polres Aceh Tengah Gelar Bakti Kesehatan Khitanan Massal untuk Masyarakat

Senin, 15 Juni 2026 - 17:30 WIB

Kasus pemukulan oleh ASN guru SDN 1 linge di desa kebet, kini telah di lakukan restorative justice di polres Aceh Tengah

Minggu, 14 Juni 2026 - 07:57 WIB

Polres Aceh Tengah Padukan Budaya, Olahraga dan Semangat Bhayangkara dalam Car Free Day Akbar, Ribuan Masyarakat Meriahkan “Rupa Rasa Warisan”

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:13 WIB

Menggapai Keberkahan di Usia Ke-80 Bhayangkara, Polres Aceh Tengah Gelar Dzikir dan Santunan Anak Yatim

Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:59 WIB

Penuh Haru dan Keceriaan, TK Kemala Bhayangkari 09 Aceh Tengah Lepas Generasi Bhayangkara Cilik Tahun Ajaran 2025/2026

Berita Terbaru